Ignatius Sunito LHO, KOK, MASIH ADA ATLET TERBUANG DI TAHUN 2004 Sabtu, 3 Januari 2004 pukul 21:6:24 WIB . Dua puluh dua cabang olahraga pasca SEAG XXII/2003 Vietnam diputuskan untuk mendapat prioritas pembinaan oleh KONI Pusat, menyongsong Asian Games XV/2006 di Qatar. Sepuluh cabang diantaranya diberi target merebut medali emas. Yaitu bulutangkis harus merebut dua keping, sementara target satu keping untuk angkat besi, panahan, balap sepeda, catur, tenis, taekwondo, atletik, karate, dan voli pantai.
Target 11 emas seperti 41 tahun silam hasil yang diperoleh Indonesia ketika menjadi tuan rumah AG IV/1962. Kemudian 12 cabang lainnya diberi target memperoleh medali apa saja, seperti dayung, menembak, tenis meja, anggar, gulat, senam, yudo, biliar, boling, tinju, akuatik, dan layar. Untuk itu setiap atlet mendapat anggaran Rp 18 juta setiap bulan, demikian Kabid pembinaan prestasi KONI Pusat, Djoko Pramono.
Bagi pengamat olahraga nasional, ada satu cabang lagi sebenarnya yang mampu mendulang emas di percaturan Asia, yaitu bina raga. Mengapa tidak masuk program pembinaan Indonesia bangkit?
Ceritanya panjang akibat kekisruhan dan kemelut di dalam kepengurusan tubuh PABBSI, yang semula menaungi olahraga angkat besi, angkat berat, dan binaraga itu. Dan sekaligus sebagai anggota federasi internasional tingkat Asia, ABBF dan dunia, IBBF.
Terutama di sektor binaraga, akibat perseteruan antara ABBF (dengan peran dominasi sekjennya, Paul Chua) dengan pihak penyelenggara kontes binaraga paling bergengsi dunia Muscle Mania di Amerika, dan yang terang ABBF dan IBBF kalah pamor. Maka, atletlah yang menderita.
Dimulai dari sejarah Ade Rai, binaragawan terkemuka Indonesia yang ikut Muscle Mania, terkena skors terlebih dahulu dari induknya PABBSI. Waktu berjalan terus dan pertikaian antar pengurus juga jalan terus, dan puncaknya beberapa orang pengurus PABBSI (Steve Tengko, yang juga seorang pengacara) keluar dari PABBSI mendirikan FBI, federasi binaraga Indonesia, dan langsung mendaftarkan diri ke ABBF.
Situasi bertambah runyam lagi, ketika diketahui PABBSI tidak pernah membayar iuran ke ABBF. Dan situasi ini dimanfaatkan benar oleh FBI, yang terbukti surat pemecatan keanggotaan PABBSI oleh ABBF sudah berada di tangan FBI terlebih dahulu dan langsung diberikan kepada pers. Sementara PABBSI sendiri belum tahu menahu dan bahkan bersikap sebagai orang bodoh.
Lebih, lebih runyam lagi waktunya bertepatan dengan SEA Games XXII/ 2003 Vietnam. Akibatnya kita ketahui bersama, atlet-atlet binaraga Indonesia yang dipersiapkan dalam pelatnas batal di kirim ke Hanoi. Ini memang jurus mematikan FBI terhadap PABBSI di mata KONI Pusat.
Pihak FBI yang dimotori oleh Steve Tengko memang lincah gerakannya, dengan terbukti bisa menggaet politikus DPR, Roy BB Janis, untuk menjadi ketua umum FBI. Gerakannya langsung ke tubuh KONI Pusat agar FBI bisa menjadi anggota, padahal FBI itu secara de facto tidak punya atlet.
KONI juga terkesima dengan jurus-jurus yang dikeluarkan oleh FBI. Padahal syarat utama keanggotaan adalah cabang itu harus ada minimal di lima daerah dan sudah menyelenggarakan pertandingan kejurnas secara teratur. Kini, meskipun keanggotaan FBI masih digantung, tetapi menurut gelagat jurus-jurus FBI akan berhasil.
Dan jangan heran, situasi dan iklim Indonesia sangat mendukung dengan gerakan semacam " politisasi" FBI ini. Artinya lihat saja, kepentingan rakyat selalu dinomor duakan oleh siapa saja yang dahulu minta dukungan, katanya, setelah itu? Nanti dulu, ah!
Dan kita lebih terheran-heran lagi, karena pihak PABBSI sendiri kini ibarat sudah menyerah kalah. Tak ada perlawanan dan pembelaan terhadap atlet-atletnya. Bahkan kita sampai bertanya, masih adakah pengurus di tubuh PABBSI ? PABBSI sebenarnya sudah keok, ibarat ayam sayur, ketika tidak bisa mempertanggungjawabkan perolehan dana amal, sekitar enam milyar rupiah yang dikumpulkan di depan Wakil Presiden RI waktu itu, Megawati.
Perseteruan yang dimulai dari titik tolak ini, akhirnya getahnya yang menerima adalah para atlet, khususnya di cabang binaraga. Maka KONI Pusat, kalau main tindak serampangan saja dalam mengatasi kemelut ini. Atletlah yang sangat menderita. Contohnya, Program Indonesia Bangkit take off, ada banyak atlet tertinggal di landasan.
Parahnya, yang tertinggal di landasan itu tidak ada kepastian akan menyusul dengan pesawat apa?
Sungguh, mereka itu tidak tahu jika ingin mengejar ketinggalannya, pesawat mana yang akan mereka naiiki, karena pilot-pilotnya asyik sendiri.
Bagaimanapun, mereka butuh kepastian. Jika sudah pasti pilihan pesawat yang akan dinaiki, pasti juga mereka akan berlari. Larinya bagaimana? Sebagai seorang Kristiani, dalam suasana Natal seperti ini, saya teringat kata-kata Rasul Paulus.
"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta ikut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah ? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya."
Ya, memang suatu kiasan akan usaha meraih prestasi. PABBSI dan FBI, tegakah kalian melihat hasil perseteruanmu ? Ignatius Sunito |