PRINT EDITION | FORUM | AGENDA | PHOTOFOLIO
BALAP
BASKET
BULUTANGKIS
OLE! INTERNASIONAL
OLE! NASIONAL
TENIS
TINJU
CABANG LAIN
Home  >  SUNITO



Ignatius Sunito
LUHUT MENGUKIR JEJAK KARATE INDONESIA
Kamis, 7 Juli 2005 pukul 13:18:21 WIB
   Luhut Binsar Panjaitan, bekas menteri perindustrian era Presiden Gus Dur dan dubes di Singapura itu sudah 10 hari menduduki jabatan orang nomor satu di dunia karate Indonesia. Ia terpilih menjadi ketua umum FORKI 2005-2009, jabatan kedua kalinya setelah 2001-2005, dalam kongres karate nasional akhir bulan Juni lalu.

Ia melaju sendirian atau terpilih secara aklamasi oleh kongres, meski sebelumnya diganggu oleh oknum-oknum yang di dunia karate terkenal sebagai “biang ribut”, dengan mencalonkan tokoh lain. Atau “asal bukan Luhut”, yang terdiri dari Menteri Dalam Negeri Muhammad Ma’aruf, yang ternyata tidak hadir di kongres. Selain tokoh-tokoh lain seperti Taufik Efendi, menteri PAN, pendayagunaan aparatur negara, dan KSAD Jenderal Djoko Santoso. Dua nama terakhir ini tersapu di tengah jalan sebelum memasuki kongres.

Meski mendapat pesaing yang mencoba mengganggunya, Luhut yang sudah terbukti dalam kepengurusannya berbuat banyak untuk dunia karate, terlebih-lebih prestasinya di arena internasional. Cukup yakin ia akan terpilih kembali, karena dasarnya memang ia mencintai olahraga dan mengenal olahraga bela diri ini secara kental. Unjuk kebolehannya sebagai orang nomor satu di FORKI ini memang dirasakan oleh jajarannya. Tak heran ia terpilih secara aklamasi, tidak seperti kongres-kongres sebelumnya yang berjalan alot.

Kebetulan dari sekian olahraga nasional yang mulai berkembang secara pesat sejak tahun 1970an, karena unsur publikasi yang sistematis, di mana saya sebagai seorang wartawan ikut beperan. Olahraga karate adalah yang paling akrab. Media-lah yang memberi peran besar tumbuh dan berkembangnya olahraga bela diri asal Jepang ini, dengan berhasil menjadi olahraga favorit anak-anak muda waktu itu. Sampai kita para wartawan terkena cap a nasionalis oleh unsur pencak silat Indonesia.

Dunia karate nasional, bak dunia persilatan dalam cerita-cerita silat kuno, penuh perseteruan dan saling melibas. Terutama klaim siapa yang paling tinggi tingkatannya, terlebih-lebih lagi pada mereka yang merasa membawa olahraga itu langsung dari asalnya, Jepang. Adalah sewaktu Ganefo 1963 di Jakarta, Games of The Emerging Forces, karate yang dibawa oleh mahasiswa-mahasiswa yang belajar di Jepang berdemonstrasi di Jakarta. Gerakannya secara ritmis dengan pukulan maupun tendangan yang efektif mematikan, merupakan daya tarik luar biasa.

Perguruan yang kebetulan mempunyai murid banyak, Shotokan, yang tergabung dalam PORKI, persatuan olahraga karate Indonesia, malahan pecah dua. Dan pemerintah, dirjen olahraga waktu itu, Soepardi, mencoba mempersatukan dengan membentuk BKOKI, Badan Koordinasi Olahraga Karate Indonesia. Tetap saja ricuh. Akhirnya KSAD waktu itu, Jenderal Soerono, campur tangan dan mempersatukan dalam satu wadah, FORKI. Dengan ketua umumnya yang pertama, Jenderal Widjojo Soejono.

FORKI memang organisasi unik, selain menampung perguruan-perguruan yang ada, juga menaungi pengda-pengda. Dan diputuskan waktu itu, perguruan-perguruan yang berada di daerah-daerah harus menjadi anggota FORKI. Dalam sejarah selanjutnya, perseteruan antar tokoh perguruan berlanjut terus. Ketua-ketua umum FORKI tak selalu tenang dalam mengemban tugasnya. Selalu digoyang dan selalu dianggap tak berprestasi.Maka, tak heran, orang kuat FORKI harus dicari dari kalangan militer.

Memang, dalam tubuh FORKI ini dari dahulu terdapat pembelajaran tentang demokrasi, yang baru kita kenal dan bisa dipraktekkan semasa Reformasi (1998 - sekarang). Kalau kita sekarang saling sikut, bak terkena tumor jiwa, FORKI sudah mengenalnya lebih dari tiga dasa warsa yang lalu. Padahal olahraga karate ini mengenal nilai-nilai spiritual, moral, seperti apa yang diucapkan oleh Bapak Karate Modern, Gichin Funakoshi, “karate the end and the beginning with courtesy”. Karate diawali dan diakhiri dengan penuh kehormatan.

Bukankah kita juga mempunyai nilai-nilai yang sama yang terkandung dalam Pancasila ?
Memang, kita sekarang ini membutuhkan semacam honestocracy, pengayoman, wisdom, kejujuran Di mana kejujuran itu adalah sahabat dari etika, integritas, dan rasa tanggungjawab. Negara kepengin mempunyai presiden yang jujur, meski tidak selalu pintar, dari pada pintar tapi culas.

Lha, kembali ke FORKI. Luhut telah melalui jabatan periode pertamanya tanpa pergolakan yang berarti. Jangan dikonotasikan seluruh komponen FORKI sudah lelah bercarut marut. Memang, Luhut telah membuktikan dengan andil nyata membawa dunia karate nasional dalam percaturan prestasi.

So, apalagi? Ya, kita bantu dia menggerakkan langkah selanjutnya.

Ignatius Sunito
SPORTS NEWS

GP Turki
MASSA ULANG DOMINASI

AFC
HAMAMM PERANGI KORUPSI

BLI
SAYEMBARA LOGO DIGELAR

Pasca Keputusan Mundur Tim Super Aguri
DAVIDSON MENCOBA BERTAHAN

Final Four IBL 2008
LAGU LAMA SM BRITAMA

Final Four IBL 2008
SEJARAH GARUDA

Seputar La Liga
VILLA DITAWAR MADRID

MVP League IBL 2008
PEMBUKTIAN DENNY SUMARGO

Seputar Liga Inggris
MUSIM DEPAN BERAT BUAT TORRES

Seputa Liga Spanyol
MADRID KUNCI GELAR LA LIGA

ARSIP

Ignatius Sunito
UNITED WE PLAY, UNITED WE WIN!

Ignatius Sunito
DI LUAR GELANGGANG PD 2006
DAN BUDAYA MALU

Ignatius Sunito
SEPAKBOLA PD 2006 PEMERSATU, PANCASILA?

Ignatius Sunito
SCHUMACHER DIANTARA PENEGAK ATURAN

Ignatius Sunito
SEANDAINYA ADA 10 AA GYM

Berita Lainnya ...

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC