
Perang Sipil Amerika diakhiri rekonsiliasi. (Getty Images)
Ketika Perang Sipil Amerika pecah pada 1861, seorang kolonel dari United State of America (USA), Robert Edward Lee, memilih pulang kampung untuk membela kota kelahiran, Virginia, yang tergabung pada 11 breakaway states.
Ke-11 negara bagian yang berada di wilayah selatan Amerika itu membentuk Confederate State of America (CSA). Tidak ada tekanan atau paksaan baik dari teman maupun keluarga saat Lee memutuskan untuk membela CSA. Keputusan itu malah mengejutkan orang-orang terdekatnya, termasuk istrinya, Mary Anna, yang lebih mendukung USA.
Bukan keputusan yang mudah bagi Lee karena ia harus berhadapan langsung dengan orang-orang terdekat termasuk sepupunya, Samuel Phillips dan John Fitzgerald, yang tetap setia menjadi pasukan Union.
Lee yang kemudian menjadi jenderal di CSA pada 1863 menulis surat untuk sang istri tercinta. “Hal yang kejam dari perang adalah memisahkan dan menghancurkan keluarga dan teman, merusak kegembiraan dan kebahagian murni dari Tuhan yang telah memberikan kita dunia ini, mengisi hati kita oleh kebencian, bukan cinta kepada tetangga kita, dan bahkan menghancurkan wajah dunia yang indah ini.”
Kebencian dan perang di mana pun hanya menghasilkan kehancuran. Rekonstruksi dan rekonsiliasi yang dilakukan setelah Perang Sipil berakhir pada 1865 karena hanya itu yang bisa mengembalikan kehidupan setelah era kegelapan hingga membunuh 620.000 tentara, termasuk juga Presiden Abraham Lincoln. Presiden AS ke-16 itu ditembak oleh simpatisan CSA, John Wilkes Booth, pada 14 April 1865.
Perbedaan pandangan termasuk masalah perbudakan hanya bisa diselesaikan oleh hakikat keinginan kedua belah pihak untuk bersama-sama membangun kembali Amerika. Benturan keinginan saat era rekonstruksi yang berlangsung hingga 12 tahun diselesaikan dengan duduk bersama untuk menyatukan persepsi, bukan kembali berperang di jalanan.
Tidak ada hubungannya antara Perang Sipil Amerika dengan kisruh sepak bola nasional, tetapi dalam dimensi yang berbeda ada kemiripan dan pembelajaran yang bisa dilihat oleh PSSI dan breakaway league yang kemudian memicu pembentukan Komite Penyelamatan Sepak Bola Indonesia (KPSI) hingga berujung pada rencana melakukan Kongres Luar Biasa.
Tancap gas pendapat, adu ngotot ego, hingga bolak-balik bersilat kata soal statuta hanya membawa sepak bola nasional ke titik sangat sumir selama tidak ada kesamaan landasan keinginan untuk melakukan rekonsiliasi. Dalam situasi sepak bola yang kian memburuk ini tidak perlu lagi terus saling menyalahkan jika orang-orang di balik PSSI dan KPSI benar-benar berniat memperbaiki dan atas nama sepak bola nasional. Faktanya kedua kubu sama-sama memiliki andil pada kebobrokan kondisi sepak bola kita saat ini sehingga mereka sepantasnya merefleksi diri. Adu ngotot keinginan hanya akan terus memperparah situasi dan korbannya sepak bola itu sendiri. Para pemain, wasit, dan orang-orang yang hidup dan benar-benar mengabdikan diri untuk sepak bola menjadi korban egoisme para petualang.
FIFA dan AFC pun enggan berkomentar menyangkut permintaan KLB karena itu merupakan urusan dalam negeri yang harus diselesaikan oleh PSSI sendiri. Pada surat yang ditandatangani oleh Sekjen FIFA, Jerome Valcke, dan Sekjen AFC, Alex Soosay, dan dikirim ke PSSI pada 13 Januari 2012, FIFA dan AFC menegaskan: FIFA and AFC are not in a position to comment on the validity of the request.
KPSI berniat melakukan KLB karena mengklaim mendapat dukungan dari 452 anggota PSSI atau lebih dari 2/3 anggota PSSI untuk melakukan KLB. Pada surat dari FIFA dan AFC tersebut, terungkap bahwa dari hasil verifikasi yang dilakukan PSSI adalah 320 dari 580 anggota yang meminta KLB atau kurang dari 2/3.
Kalau mau fair, PSSI dan KPSI sebaiknya mempublikasikan 320 anggota versi PSSI dan 452 versi KPSI yang mendukung KLB agar menjadi terang apakah perlu ada KLB atau tidak. Kalau PSSI yang benar, kubu KPSI jangan ngotot menggelar KLB, tapi jika KPSI yang benar mendapat dukungan lebih dari 2/3, tentu PSSI harus membuka diri karena keberadaan PSSI tidak bisa lepas dari para anggotanya.
FIFA dan AFC sendiri menegaskan agar PSSI menyelesaikan permasalahan dan menemukan resolusi di dalam Kongres Tahunan. In view of the above and considering the on-going problems facing Indonesian football, FIFA and AFC strongly recommend that PSSI convene as soon as possible an Ordinary Congress to ensure compliance with its statutes and to provide a forum for resolution.
Menyangkut Kongres Tahunan, FIFA dan AFC sedikit mengancam agar segera dilaksanakan PSSI: Ordinary Congres should be held before 20 March 2012 to avoid the referral to the FIFA Association Committee for possible sanction.
FIFA dan AFC pasti gerah pada kisruh sepak bola Indonesia yang terus menerus berlangsung dan seperti tanpa ada penutup cerita. Kita pun pasti muak pada berbagai dagelan yang sehari-hari berdengung lebih nyaring dibanding prestasi dan pembinaan.
PSSI dan KPSI harus duduk bersama untuk membuka pintu rekonstruksi, rekonsiliasi, dan mencari resolusi. Namun, mereka lebih terlihat ngotot untuk mengedepankan kepentingan kubu masing-masing. Mereka seperti menutup telinga, tak mau mendengar masukan apalagi kritikan, tak sudi membuka hati karena merasa yang paling benar. Padahal PSSI bukan milik pengurus maupun kubu KPSI. PSSI milik bangsa ini, sama halnya dengan Bendera Merah Putih, Burung Garuda, dan Lagu Indonesia Raya. PSSI memang bukan lambang negara, tetapi PSSI sejak dilahirkan merupakan alat perjuangan yang sepatutnya menjadi kebanggaan semua warga dari Aceh hingga Papua. Tapi, kini sangat ironis karena sebagian besar klub memilih bersebrangan dengan PSSI dan pintu sebagian besar pemain ditutup untuk membela tim nasional.
Untuk itu, harus ada penengah yang bisa mempertemukan PSSI dan KPSI dan yang patut melakukannya adalah pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olah Raga dan juga KONI. Tapi, Kemenpora dan KONI harus menjadi wasit yang benar-benar netral karena jika dianggap memihak oleh salah satu kubu, keinginan mencari solusi akan kembali sulit tercapai.
Akan lebih efektif lagi jika Kemenpora dan KONI mempertemukan tokoh-tokoh yang mungkin didengar oleh PSSI maupun KPSI seperti Arifin Panigoro dan Nirwan D. Bakrie. Jika bisa berbicara dari hati ke hati dengan koridor niat murni demi sepak bola, rasanya atmosfer panas sepak bola kita bisa reda dan memulai dari awal untuk berjabat tangan membangun sepak bola nasional.
Atau apakah orang-orang di balik PSSI dan KPSI sebetulnya tidak peduli pada sepak bola kita? Semoga tidak begitu!