Skor
Eko Widodo

Share Kolom

Final NBA 2012
Menunggu Bukti James Harden dan Shane Battier
Eko Widodo
Selasa, 19/06/2012 18:44:00   |   Read : 1991

James Harden (putih) dan Shane Battier (di belakangnya), ikon penting gim keempat. (Getty Images)

Siapakah tidak kenal James Harden? Guard setinggi 196 cm ini adalah peraih gelar Pemain Cadangan Terbaik 2012. Ia menjadi musuh nomor satu Miami Heat yang harus dibuat tidak nyaman menembak di Final NBA 2012.

Sejak pemberian award Sixth Man Award pada 1985, tim yang memiliki pemain cadangan terbaik memenangi 14 kali dari 20 kali final NBA. Artinya, 70% para Sixth Man Champion itu memenangi laga final.

Pelatih Heat, Erik Spoelstra adalah pakar statistik bola basket. Lewat stafnya, ia memperhatikan betapa Harden adalah mesin angka yang tidak boleh dianggap enteng. Pada kompetisi reguler saja, statistiknya 19 angka per gim dengan persentase tembakan 60%.

Tanpa basa-basi, ia menulis di board kamar ganti Heat bahwa persentase menembak Harden harus ditekan serendah mungkin. Setting defense untuk para starter sudah tidak masalah sebab LeBron James menghandle Kevin Durant, sementara tugas menjaga Russell Westbrook ada di tangan Dwyane Wade dan Mario Chalmers. Bahkan, Wade tak jarang melakukan dobel tim menjaga Durant.

Menurut pengakuan Wade, pilihan coach Spoelstra menjaga Durant dengan LeBron adalah tepat. "Radar defense LeBron itu sangat tajam. Ia lebih efektif menjaga Durant daripada menjaga dua small man Dallas, Shawn Marion dan DeShawn Stevenson di final NBA tahun lalu," kata Wade, seperti dipaparkan ke Miami Herald.

Ketika LeBron bisa menjaga Durant, fokus defense Heat berikutnya adalah James Harden. Harden dianggap jauh lebih berbahaya. Sampai tiga gim di Final NBA 2012, defense Heat terbilang berhasil sebab bisa menekan persentase Harden menjadi hanya rata-rata 14,2 angka per gim dalam 36 menit. Persentase field goal Harden hanya 52,9%.

Entah mendapatkan bocoran data dari mana, persentase tembakan 2pts Harden yang mencapai 80% saat latihan pun sudah ada di tangan Spoelstra.

Dibuat Tak Nyaman

Coach Spoelstra juga tahu persis bahwa Harden itu ahli mencari foul yang diganjar lemparan bebas (foul drawing). Skill Harden untuk urusan ini mirip-mirip dengan Kevin Garnett dan Dirk Nowitzki. Membuatnya tidak nyaman saat mendapatkan foul dan berharap konsentrasi terganggu saat free throw adalah game plan cerdik mengurangi keunggulan skor dari bench OKC Thunder.

Menjauhkan Harden dari comfort zone menembak dilakukan sangat baik oleh para defender Heat, terutama Battier, Chalmers, maupun Wade. Menurut laporan analisis ESPN, ia juga digiring semakin jauh dari jarak tembak nyaman sejauh 10 feet (sekitar 3 meter) menjadi 23 feet (sekitar 7 meter).

Dampaknya dahsyat. Harden seperti kehilangan kepercayaan diri. Persentase tembakan 3 angka menurun dari 39% menjadi 33%. Tembakan 2 angka juga melesat turun dari 59% menjadi hanya 44%. Ketika Harden bisa menembak dari lokasi isolasi, Spoelstra mengharuskan pra pemainnya mengganti kesalahan itu dengan membuat angka untuk mempertahankan marjin keunggulan.

Skenario defense Heat yang mengurangi Harden mengolah bola untuk dieksekusi juga berhasil. Di babak final, Harden harus mengumpan lebih banyak daripada menembaknya (penurunan dari 35% menjadi 25%). Mematikan jalur passing Harden, terbukti efektif sebab Harden hanya 25% membuat angka dari assist kawan di tiga gim final melawan Heat. Bandingkanlah, di kompetisi reguler, Harden mengeksekusi umpan kawan menjadi angka (assist) dengan persentase mencapai 49,5%.

Battier Si Kartu Truf

Belum selesai menemukan jalan keluar memecahkan penurunan produktivitas Harden, masalah lain muncul dari Mr. June, alias Shane Battier. Battier berkontribusi 64% dari seluruh poin dari tembakan 3 angka Miami Heat. Munculnya tembakan-tembakan mematikan dari Battier membuat coaching staff Thunder, pening.

Battier adalah kunci dari detil offense yang dimainkan Heat. Dengan opsi pada LeBron, Wade, Bosh, dan Chalmers, tak ada yang memperhatikan secara detil bahwa Heat punya opsi kelima yakni Battier. Ketenangan, penempatan posisi, dan akurasi Battier diasah intensif menjelang persiapan ke babak final.

Ia adalah sosok kunci. Battier selalu memperhatikan detil offense meskipun bukan diset untuknya, kata coach Spoelstra. Battier tahu persis, ia bukan bagian utama dari tim Heat. Namun empat target offense Heat adalah pengumpan jitu (great passer) yang bisa mengirim bola matang kapan saja. Saya nyaman karena tinggal mendapatkan bola matang sebab posisi saya sudah terbuka, kata Battier merendah.

Rendah hati dan sangat mempercayai teman setim adalah tempaan hidup Battier. Sebagai sosok berdarah campuran kulit hitam dan putih (ayah Battier berkulit hitam, ibunya berkulit putih), ia sudah biasa disisihkan oleh komunitas sejak bersekolah. Ketenangan melakukan sesuatu ia peroleh sebab Battier adalah sarjana Agama lulusan universitas Duke.

Cinta mati Battier pada wanita bernama Heidi Ufer, membuat Battier menikahi sweet heart-nya pada tahun 2004 lalu. Dengan anugrah sepasang anak Zeke Edward Battier dan Eloise Battier, secara mental Shane Battier adalah pilihan paling mantap untuk counter attack Heat.

Tak banyak yang tahu bahwa kehebatan Battier sebagai kunci dari bench sudah dicium manajemen Rockets via sang GM Daryl Morey. Morey sampai memberikan julukan Lego bagi Battier. Sebab ketika ia di lapangan, semua komponen tim akan fit dan dibuat nyaman oleh kehadirannya, kata Morey.

LeBron James jelas-jelas memuji kehebatan Battier. Ia adalah komponen penting tim ini, khususnya untuk urusan menjaga bintang lawan. Saya akan sangat berterima kasih padanya jika cincin juara bisa diperoleh, kata LeBron.

King James dan Wade sudah memberikan testimoni. Siapakah yang akan membuktikan diri di gim krusial, gim keempat, Rabu (20/6) pagi WIB? Pilihlah sendiri pembaca.

Komentar