25 Oktober 2014
SCORE UPDATE
  • PREMIER LEAGUE :
    SWANSEA CITY (-) VS (-) LEICESTER CITY
  • PREMIER LEAGUE :
    WEST BROMWICH ALBION (-) VS (-) CRYSTAL PALACE
  • PREMIER LEAGUE :
    TOTTENHAM HOTSPUR (-) VS (-) NEWCASTLE UNITED
  • PREMIER LEAGUE :
    SUNDERLAND (-) VS (-) ARSENAL
  • PREMIER LEAGUE :
    SOUTHAMPTON (-) VS (-) STOKE CITY
  • PREMIER LEAGUE :
    LIVERPOOL (-) VS (-) HULL CITY
  • PREMIER LEAGUE :
    WEST HAM UNITED (-) VS (-) MANCHESTER CITY
  • LA LIGA :
    ALMERIA (-) VS (-) ATHLETIC BILBAO
  • LA LIGA :
    REAL MADRID (-) VS (-) BARCELONA
  • LA LIGA :
    CELTA VIGO (-) VS (-) LEVANTE
  • BUNDESLIGA :
    BAYER LEVERKUSEN (-) VS (-) SCHALKE 04
  • BUNDESLIGA :
    HOFFENHEIM (-) VS (-) PADERBORN
  • BUNDESLIGA :
    HERTHA BERLIN (-) VS (-) HAMBURGER SV
  • BUNDESLIGA :
    EINTRACHT FRANKFURT (-) VS (-) VFB STUTTGART
  • BUNDESLIGA :
    BORUSSIA DORTMUND (-) VS (-) HANNOVER 96
  • BUNDESLIGA :
    AUGSBURG (-) VS (-) FREIBURG
  • BUNDESLIGA :
    WERDER BREMEN (-) VS (-) KOELN
  • INDONESIA SUPER LEAGUE :
    AREMA INDONESIA (-) VS (-) PERSELA
  • INDONESIA SUPER LEAGUE :
    PERSIPURA (-) VS (-) SEMEN PADANG
  • SERIE A :
    PARMA (-) VS (-) SASSUOLO
  • SERIE A :
    EMPOLI (-) VS (-) CAGLIARI
  • EREDIVISIE :
    VITESSE (-) VS (-) NAC BREDA
  • EREDIVISIE :
    ADO DEN HAAG (-) VS (-) FC DORDRECHT
  • PIALA AFC U-19 2014 :
    KOREA UTARA (0) VS (1) QATAR
  • LIGA CHAMPION - GRUP D :
    GALATASARAY (0) VS (4) BORUSSIA DORTMUND
  • LIGA CHAMPION - GRUP D :
    ANDERLECHT (1) VS (2) ARSENAL
  • LIGA CHAMPION - GRUP C :
    MONACO (0) VS (0) BENFICA
  • LIGA CHAMPION - GRUP C :
    BAYER LEVERKUSEN (2) VS (0) ZENIT ST. PETERSBURG
  • LIGA CHAMPION - GRUP B :
    PFC LUDOGORETS RAZGRAD (1) VS (0) BASEL
  • LIGA CHAMPION - GRUP B :
    LIVERPOOL (0) VS (3) REAL MADRID
  • LIGA CHAMPION - GRUP A :
    OLYMPIAKOS (1) VS (0) JUVENTUS
  • LIGA CHAMPION - GRUP A :
    ATLETICO MADRID (5) VS (0) MALMO FF
  • INDONESIA SUPER LEAGUE :
    PERSIB (3) VS (1) PERSEBAYA
  • LIGA CHAMPION - GRUP H :
    FC PORTO (2) VS (1) ATHLETIC BILBAO
  • LIGA CHAMPION - GRUP H :
    BATE BORISOV (0) VS (7) SHAKHTAR DONETSK
  • LIGA CHAMPION - GRUP G :
    SCHALKE 04 (4) VS (3) SPORTING CP
  • LIGA CHAMPION - GRUP G :
    CHELSEA (6) VS (0) MARIBOR
  • LIGA CHAMPION - GRUP F :
    BARCELONA (3) VS (1) AJAX
  • LIGA CHAMPION - GRUP F :
    APOEL NICOSIA (0) VS (1) PARIS SAINT GERMAIN
  • LIGA CHAMPION - GRUP E :
    AS ROMA (1) VS (7) BAYERN MUENCHEN
  • INDONESIA SUPER LEAGUE :
    PERSIPURA (2) VS (1) AREMA INDONESIA
  • INDONESIA SUPER LEAGUE :
    PELITA BANDUNG RAYA (1) VS (0) MITRA KUKAR
  • INDONESIA SUPER LEAGUE :
    PERSELA (1) VS (2) SEMEN PADANG
  • PREMIER LEAGUE :
    WEST BROMWICH ALBION (2) VS (2) MANCHESTER UNITED
  • LA LIGA :
    REAL SOCIEDAD (1) VS (2) GETAFE
  • SERIE A :
    GENOA (1) VS (1) EMPOLI
  • LIGA CHAMPION - GRUP E :
    CSKA MOSKVA (2) VS (2) MANCHESTER CITY
  • PIALA AFC U-19 2014 :
    MYANMAR (2) VS (3) QATAR
  • PIALA AFC U-19 2014 :
    UZBEKISTAN (0) VS (5) KOREA UTARA
  • LA LIGA :
    VILLARREAL (2) VS (0) ALMERIA
  • LA LIGA :
    ELCHE (0) VS (2) SEVILLA
  • SERIE A :
    INTER (2) VS (2) SSC NAPOLI
  • LIGUE 1 :
    LYON (5) VS (1) MONTPELLIER
  • EREDIVISIE :
    FC GRONINGEN (1) VS (1) EXCELSIOR
  • EREDIVISIE :
    GO AHEAD EAGLES (3) VS (2) PEC ZWOLLE
  • EREDIVISIE :
    FC DORDRECHT (1) VS (3) FC UTRECHT
  • EREDIVISIE :
    SC HEERENVEEN (2) VS (2) CAMBUUR
  • EREDIVISIE :
    NAC BREDA (1) VS (1) ADO DEN HAAG
  • EREDIVISIE :
    FC TWENTE (1) VS (1) AJAX
  • EREDIVISIE :
    FEYENOORD (2) VS (1) HERACLES
  • PREMIER LEAGUE :
    STOKE CITY (2) VS (1) SWANSEA CITY
  • PREMIER LEAGUE :
    QUEENS PARK RANGERS (2) VS (3) LIVERPOOL
  • LA LIGA :
    ATLETICO MADRID (2) VS (0) ESPANYOL
  • LA LIGA :
    CORDOBA (1) VS (2) MALAGA
  • LA LIGA :
    BARCELONA (3) VS (0) EIBAR
  • BUNDESLIGA :
    PADERBORN (3) VS (1) EINTRACHT FRANKFURT
  • BUNDESLIGA :
    HAMBURGER SV (1) VS (1) HOFFENHEIM
  • SERIE A :
    TORINO (1) VS (0) UDINESE
  • SERIE A :
    PALERMO (2) VS (1) CESENA
  • SERIE A :
    HELLAS VERONA (1) VS (3) AC MILAN
  • SERIE A :
    CAGLIARI (2) VS (2) SAMPDORIA
  • SERIE A :
    ATALANTA (1) VS (0) PARMA
  • SERIE A :
    FIORENTINA (0) VS (2) LAZIO
  • SERIE A :
    SASSUOLO (1) VS (1) JUVENTUS
  • LA LIGA :
    DEPORTIVO LA CORUNA (3) VS (0) VALENCIA
  • LIGUE 1 :
    BORDEAUX (1) VS (1) CAEN
  • LIGUE 1 :
    MARSEILLE (2) VS (0) TOULOUSE
  • LIGUE 1 :
    NICE (0) VS (1) BASTIA
  • LIGUE 1 :
    NANTES (1) VS (1) REIMS
  • LIGUE 1 :
    MONACO (2) VS (0) EVIAN THONON GAILLARD
  • LIGUE 1 :
    METZ (0) VS (0) RENNES
  • LIGUE 1 :
    LILLE (1) VS (2) GUINGAMP
Spanyol vs Italia: Komedi Dua Orang Striker
Selasa, 12 Juni 2012 | 12:09 WIB
Getty Images
Gianluigi Buffon menggagalkan aksi Fernando Torres.

Hari ketiga pagelaran Euro 2012 menghadirkan sebuah partai bergengsi. Bertemunya juara dari dua gelaran terakhir Piala Dunia, Italia dan Spanyol, tentu saja menyorot banyak perhatian para penikmat sepak bola di bumi. Siapa yang tidak tertarik untuk menyaksikan sebuah ajang pembuktian kokohnya pertahanan gerendel milik Italia ketika dijajal oleh keindahan tiki-taka ala negeri matador? Sayangnya, begitu kedua tim tersebut memamerkan susunan pemain yang akan diturunkan, banyak pihak yang merasa pertandingan akan berjalan membosankan.

Bagaimana tidak? Seakan terinspirasi dari film Men In Black III, Italia memutuskan untuk kembali ke masa lalu, dengan memakai formasi 3-5-2, untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi di masa depan. Entah kerena Cesare Prandelli terkesima dengan permainan yang disuguhkan Juventus dan Napoli pada musim lalu, atau karena mantan pelatih Fiorentina itu takut dengan kekuatan lini tengah Spanyol, yang pasti dipakainya formasi klasik tersebut cukup mengejutkan banyak pihak.

Belum cukup sampai situ, Italia menghadirkan sebuah kejutan lain, jika ditaruhnya Giaccherini sebagai wing back tidak dianggap aneh, dengan menempatkan Daniele De Rossi sebagai libero (atau sweeper?). Kehilangan Andrea Barzagli memaksa Prandelli untuk menggeser posisi De Rossi untuk ikut menggalang barisan pertahanan. Penempatan De Rossi juga bukan sekedar judi asal-asalan, karena gelandang berusia 28 tahun tersebut bisa dikatakan cukup punya pengalaman bermain sebagai bek pada musim lalu, saat para punggawa pertahanan AS Roma sibuk memarkir kaki mereka di ruang pengobatan.

Di lain pihak, Spanyol seakan mampu meramalkan strategi yang akan digunakan Italia. Mungkin karena tidak ingin kalah dalam hal penguasaan bola, tim yang berstatus sebagai juara bertahan itu merespon dengan menurunkan enam orang gelandang, Cesc Fabregas tidak bisa disebut sebagai penyerang meski berperan sebagai “striker”.

Sulit untuk membaca apa yang ada di pikiran seorang Vicente Del Bosque yang lebih memilih Fabregas dibandingkan duo Fernando yang memang berposisi asli sebagai penyerang. Pelatih berusia 61 tahun itu tampaknya cukup pusing memilih siapa yang harus diturunkan sebagai penyerang diantara Torres, Llorente, dan Negredo, hingga akhirnya memutuskan untuk bersikap adil dengan tidak memilih ketiganya dan memberi kesempatan pada Fabregas sebagai penyerang “palsu”.

Peluit dimulainya pertandingan berbunyi dan pihak-pihak yang meramalkan pertandingan akan berjalan alot pun mulai berdoa semoga prediksi mereka benar. Sayangnya prediksi mereka bisa dibilang salah, terlepas dari maraknya festival operan yang tersaji, kedua tim menghadirkan partai yang seru. Pertandingan berjalan normal dengan Spanyol mendominasi permainan melalui operan-operan pendek. Italia yang bermodalkan serangan balik malah lebih terlihat berbahaya. Di babak pertama, kapten Spanyol, Iker Cassillas, bahkan terlihat lebih sibuk dibandingkan kapten tim lawannya, Gianluigi Buffon, dalam mengamankan gawang.

Jika Spanyol butuh enam orang gelandang untuk menyuguhkan aliran bola nan cantik di lapangan, Italia hanya butuh satu orang untuk menyajikan umpan-umpan “gaib” dan tugas itu ada pada diri Andrea Pirlo. Meski sudah uzur dengan umurnya yang menginjak 33 tahun, pemain yang dengan dermawannya diberikan oleh AC Milan kepada Juventus secara gratis pada awal musim lalu itu masih menunjukkan kelasnya sebagai seorang deep-playmaker. Gelandang yang dijuluki metronome ini tampaknya sudah tahu harus mengoper ke mana bahkan sebelum dirinya menerima bola.

Sialnya, keanggunan Pirlo saat memimpin orkestra dengan nama Gli Azzurri tidak dibarengi dengan performa menawan dari salah satu “musisi” arahannya yang bernama Mario Balotelli. Sempat menghadirkan rasa cemas dalam diri para pendukung Spanyol melalui tendangannya yang masih melebar pada awal babak pertama, penyerang berjuluk Super Mario ini gagal menunjukkan aksi menawan lainnya sepanjang pertandingan.

Striker yang punya selera “kelas atas” dalam hal pemilihan gaya potongan rambut ini bahkan mendapat hadiah kartu kuning di babak pertama. Entah akibat usahanya dalam membobol gawang Casillas selalu gagal, atau karena suasana hati duta keselamatan bermain kembang api ini sedang buruk karena merasa potongan rambutnya kali ini tidak cocok, yang pasti usaha Balotelli saat menjegal Jordi Alba tidak patut dicontoh.

Tuhan memang baik karena masih memberi penyerang Manchester City ini kesempatan kedua saat Sergio Ramos melakukan kesalahan dalam menghalau bola di sisi kiri pertahan La Furia Roja pada babak kedua. Momen inilah yang menjadi awal dibukanya panggung komedi satu dari dua orang juru gedor di pertandingan ini. Sukses mendapat bola dalam posisi bebas dan hanya tinggal berhadapan dengan Casillas setelah Ramos melakukan kesalahan, Balotelli sebenarnya punya peluang sangat besar untuk menjadi pahlawan Italia.

Anehnya, penyerang yang dinilai oleh Roberto Mancini punya kemampuan lebih hebat dibanding Fernando Torres, yang pada saat itu masih duduk manis di bangku cadangan, itu malah bergerak lambat dan membiarkan Ramos menebus kesalahan yang baru saja dibuatnya beberapa detik lalu. Mungkin Balotelli mengira sudah tidak ada lagi penghalang bagi dirinya untuk mencetak gol dan sibuk membayangkan sosok dirinya berdiri sombong menghadap tribun sambil dielu-elukan oleh para pendukung Italia yang hadir di Arena Gdansk pada malam itu.

Apapun alasan yang membuat striker kelahiran Ghana ini membuang peluang emas tersebut, tampaknya cukup untuk memutus kesabaran sang pelatih. Merasa anak didiknya sudah cukup menghibur para penonton dengan dribble santai menuju gawang Spanyol, serta tidak ingin Balotelli mengeluarkan kemampuan spesialnya, yaitu diusir dari lapangan, Prandelli mengganti Super Mario dengan striker lain yang lebih “dewasa”, Antonio Di Natale.

Di Natale langsung tancap gas untuk menghidupkan harapan para pendukung Italia, entah benar-benar pengagum atau yang mendukung karena bandar judi memberikan “kelonggaran” bagi mereka yang bertaruh pada kehebatan timnas Italia. Berbeda dengan Balotelli yang sibuk berkhayal ke sana-ke mari saat mendapat kesempatan emas, Di Natale langsung memproses operan Pirlo menjadi sebuah gol.

Spanyol tidak butuh waktu lama untuk mengakhiri pesta sementara Italia. Fabregas yang sepanjang pertandingan seakan menghilang, tiba-tiba muncul untuk menerima umpan dari David Silva. Pemain bernomor punggung 10 yang pada pertandingan itu didaulat sebagai penyerang sukses menunaikan tugas setelah tembakannya tidak mampu dihalau Buffon dan kembali membuat keadaan imbang.

Kehadiran Tokoh Utama

Setelah Italia sukses menghibur penonton dengan aksi Balotelli, kali ini giliran aktor asal Spanyol yang naik panggung. Berhasil melaksanakan misi yang diberikan kepadanya dengan mencetak gol penyeimbang, Fabregas akhirnya ditarik keluar oleh Vicente Del Bosque dan digantikan dengan Fernando Torres. Arsitek tim Spanyol itu berharap kondisi Torres yang masih bugar dapat memberikan cobaan pada kaki-kaki para punggawa Italia yang sudah mulai letih.

Sebuah slogan terkenal yang berbunyi “jagoan datang belakangan” tampaknya cocok untuk menggambarkan kehadiran penyerang termahal Premier League ini di lapangan. Hanya tampil selama kurang lebih 15 menit, Torres sukses jadi “jagoan” karena aksi hebatnya yang tidak kalah dengan Balotelli. Tidak lama setelah El Nino masuk, sebuah panggung pertunjukkan langsung disiapkan untuknya. Mungkin karena terlalu meremehkan atau ingin bersikap baik kepada striker yang baru saja meraih piala UEFA Champion League ini, pertahanan Italia sedikit melonggar dan membuat Torres mendapat kesempatan yang mirip dengan peluang yang disia-siakan oleh Balotelli di awal babak kedua.

Untungnya, pemain yang menganggap Chelsea sebagai klub yang lebih besar daripada Liverpool sehingga memutuskan untuk menyebrang ke Stamford Bridge demi piala tersebut terlalu sombong untuk menerima kebaikan hati dari tim Italia. Mungkin karena tidak ingin terlihat dikasihani, penyerang yang dengan hebatnya mencetak enam gol dari 32 penampilan bersama Chelsea di Premier League musim lalu ini memutuskan untuk sedikit memperlihatkan usaha demi mencetak gol dan GAGAL!

Dalam situasi one on one dengan Buffon, Torres memilih untuk mengecoh penjaga gawang nomor satu Italia tersebut. Mungkin akan terlihat berbeda bila Buffon berhasil menggagalkan usaha Torres dengan merebut bola memakai tangannya. Hebatnya, Torres sukses memukau penonton karena Buffon berhasil merebut bola darinya dengan kakinya... ya dengan KAKI KIRI! Melihat kepiawaian kapten Italia itu merebut bola dari kaki Torres, seandainya nanti De Rossi berhalangan main dan Barzagli masih dirundung cedera, Prandelli mungkin bisa menjadikan Buffon sebagai salah satu pilihan untuk menemani Chiellini dan Bonucci di lini belakang.

Hebatnya lagi, teman-teman yang menonton pertandingan ini bersama saya seakan tidak terkejut melihat kegagalan Torres. Sudah separah ini kah kemampuan Torres? Mungkin Roberto Soldado tertawa puas saat menonton adegan gagalnya pemain Spanyol termahal tersebut mengecoh Buffon di televisi dan Llorente akan meyakinkan Del Bosque bahwa masih ada Fernando lainnya yang bisa tampil lebih baik dari Fernando yang ada di lapangan pada saat itu.

*) Penulis adalah mahasiswa Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi Kampus Bandung, Universitas Padjadjaran.

 


Penulis

Sumber

: Dery Adhitya Putra

:

Berita Terkait
  • Komentar

KOLOM

KLASEMEN LIGA

  • No
  • Team
  • M
  • M
  • S
  • K
  • SG
  • N
1 Chelsea 8 7 1 0 23-8 22
2 Man. City 8 5 2 1 18-8 17
3 Southampton 8 5 1 2 19-5 16
4 Liverpool 8 4 1 3 13-12 13
5 West Ham 8 4 1 3 15-11 13
6 Man. United 8 3 3 2 15-12 12
7 Arsenal 8 2 5 1 13-11 11
8 Swansea 8 3 2 3 11-10 11
9 Tottenham 8 3 2 3 10-11 11
10 Stoke 8 3 2 3 8-9 11
11 Hull 8 2 4 2 13-13 10
12 Aston Villa 8 3 1 4 4-12 10
13 Everton 8 2 3 3 16-16 9
14 West Brom 8 2 3 3 10-11 9
15 Leicester 8 2 3 3 11-13 9
16 Sunderland 8 1 5 2 8-15 8
17 C. Palace 8 2 2 4 11-14 8
18 Newcastle 8 1 4 3 8-14 7
19 Burnley 8 0 4 4 4-13 4
20 QPR 8 1 1 6 6-18 4