
Pembuakan Euro 2012 dilakukan di Stadion National, Warsawa. ()
Hari ini, Jumat (8/6), Euro 2012 dibuka di Stadion National Warsawa, Polandia, dan akan ditutup dengan partai final pada 1 Juli di Stadion Olympic Kiev, Ukraina. Setidaknya 1,4 juta penonton akan hadir di delapan stadion penyelenggara 31 pertandingan yang akan disiarkan ke 200 negara di seluruh dunia.
Polandia dan Ukraina menjadi tuan rumah bersama ketiga setelah Belgia-Belanda pada Euro 2000 dan Austria Swiss pada Euro 2008. Polandia menyiapkan Gdansk, Poznan, Warsawa, dan Wroclaw, sedangkan Ukraina memilih Donetsk, Lviv, Kharkiv, dan Kiev sebagai kota penyelenggara.
Razem tworzymy przyszłość dalam bahasa Polandia atau Творимо історію разом / Tvorymo istoriyu razom dalam bahasa Ukraina alias Creating History Together dipilih sebagai slogan Euro 2012. Dua negara bertetangga di wilayah Eropa bagian timur tersebut ingin membuat kesuksesan bersama sebagai tuan rumah dan tentu dengan harapan tim nasional mereka juga meraih kesuksesan.
Dari 13 penyelenggaraan Piala Eropa sebelumnya, hanya ada tiga negara tuan rumah yang mampu menjadi juara yakni Spanyol pada 1964, Italia pada 1968, dan terakhir Prancis pada 1984. Selanjutnya pada enam turnamen terakhir, Portugal tercatat sebagai tuan rumah tersukses yakni lolos hingga final Euro 2004. Di final, Portugal harus mengakui kemenangan Yunani.
Menyimak kualitas dan kekuatan tim, Polandia dan Ukraina diragukan bisa sukses hingga menjadi juara, meski mereka bisa saja membuat cerita kejutan. Untuk itu, sejarah sukses sebagai penyelenggara, rasanya lebih krusial karena bisa menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi kedua negara.
Polandia dan Ukraina bersolek demi penyediaan berbagi infrastruktur dari mulai stadion, jalan, transportasi publik, hotel, dll. Namun, perjalanan Polandia dan Ukraina hingga pada titik pembukan hari ini berlangsung sangat berat. Ujian demi ujian terus datang menghadang persiapan sejak kedua Polandia dan Ukraina ditetapkan sebagai tuan rumah bersama pada pertemuan Komite Eksekutif UEFA di Cardiff, Wales, 18 April 2007, mengalahkan Italia and duet Kroasia–Hungaria.
Asosiasi Sepak Bola Polandia (PZPN) bahkan sempat dibekukan oleh Menteri Olah Raga Polandia, Miroslaw Drzewiecki, pada September 2008 karena kasus korupsi. FIFA dan UEFA sempat turun tangan untuk menyelesaikannya. Meski begitu, persiapan Polandia tergolong lebih cepat dibandingkan Ukraina. Bahkan dari empat kota yang ditunjuk, hanya Kiev yang sempat dianggap layak menjadi kota tuan rumah di Ukraina. Tiga kota lainnya yakni Lviv, Donetsk, dan Kharkiv mendapat status mengkhawatirkan.
Presiden UEFA, Michel Platini, dalam sebuah wawancara pada Mei 2010 sampai-sampai menyebut Jerman dan Hongaria dipertimbangkan untuk menggantikan Ukraina. Kekhawatiran UEFA dijawab Ukraina dengan berbagai usaha untuk merealisasikan infrastruktur. Platini baru bisa percaya Ukraina benar-benar siap menjadi tuan rumah Euro 2012 pada September 2011.
Hambatan terus menerpa. Berbagai organisasi pecinta hewan memprotes pembunuhan kucing dan anjing liar dalam rangka persiapan Euro 2012 di Ukraina. Pada November 2012, Menteri Sumber Daya Alam dan Ekologi Ukraina menyatakan akan segera menghentikan dan melarang pembunuhan anjing. Aktivis perempuan banyak melakukan protes terhadap prostitusi yang dianggap dilegalkan selama Euro 2012. Mereka menuntut pemerintah untuk menginformasikan kepada penonton sepak bola bahwa prostitusi di Ukraina adalah illegal dan mereka meminta agar pemerintah membuat berbagai kebijakan untuk memerangi pelacuran.
Tahanan politik yang juga mantan Perdana Menteri Ukraina, Yulia Tymoshenko, melakukan mogok makan mulai 20 April 2012 karena mendapat penyiksaan di penjara. Hal itu memunculkan banyak protes keras dan pemboikotan dari komunitas internasional. Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso, bersama para pembantunya menyatakan akan memboikot turnamen di Ukraina.
Kanselir Austria, Werner Faymann, mengumumkan para pejabat pemerintahan Austria tidak akan menghadiri Euro 2012. Hal yang sama dilakukan pemerintah Belgia. Menteri Luar Negeri Belgia, Didier Reynders, bahkan secara terang-terangan meminta pemerintah Ukraina menghormati hak-hak Tymoshenko. Kanselir Jerman, Angela Merkel, juga memastikan untuk memboikot kehadiran di Ukraina.
27 April 2012, empat bom meledak di kota Dnipropetrovsk, Ukraina. Sedikitnya 29 orang mengalami luka-luka. Presiden Federasi Sepak Bola Ukraina, Hryhoriy Surkis, khawatir serangan teroris tersebut mengganggu imej Ukraina. UEFA juga sempat menanggapi jika situasi politik di Ukraina menjadi tidak stabil, Euro bisa diundur menjadi 2013. Karena alasan keamanan, Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, Angel Maria Villar, sempat menawarkan Euro 2012 dipindah ke Spanyol.
Rasisme dan Setitik Harapan
Kurang dari sebulan menuju pembukaan, 28 Mei 2012, stasiun televisi BBC melalui program acara Panorama, mengupas isu-isu rasisme, antisemitisme, dan hooliganisme yang banyak terjadi di suporter Polandia dan Ukraina. Program berjudul Euro 2012: Stadiums of Hate, Stadion-Stadion Kebencian, menayangkan para suporter yang meneriakkan slogan-slogan antisemitisme dengan menampilkan berbagai spanduk dan simbol kekuatan ras kulit putih.
Salam Nazi dan ejekan suara monyet kepada pemain berkulit hitam juga banyak dilakukan suporter. Tim Belanda sudah merasakan tindakan tersebut saat berlatih di Wisla Krakow. Sekitar 500 suporter menirukan suara monyet.
Pendukung FC Metalist Kharkiv terekam bertindak brutal dengan menyerang sekelompok mahasiswa keturunan Asia di Metalist, Kharkiv, stadion yang juga dipakai untuk Euro 2012. Beberapa pemerintah termasuk Perancis, Denmark, dan Inggris pun telah mengingatkan para pendukung timnya akan risiko kekerasan rasial.
Di balik semua permasalahan dan kekhawatiran, semua warga dunia tidak bisa berpaling dan akan menjadi bagian dari saksi. Hari ini adalah hari bersejarah yang membuat Polandia-Ukraina akan tercatat sepanjang masa sebagai tuan rumah Euro 2012, pentas terakhir yang menyertakan 16 negara di putaran final karena mulai 2016 peserta putaran final akan menjadi 24 tim.
Bagaimana dengan kita? Akan selalu menjadi penonton karena sampai kapan pun tim nasional kita tidak mungkin tampil di Euro. Tapi, bukan berarti Tim Garuda tidak bisa muncul ke pentas dunia karena ada Piala Dunia, pentas impian semua negara. Atau paling tidak, Piala Asia, supremasi tertinggi negara-negara Asia, meski sangat berat karena dari empat kali tampil di putaran final pun tidak pernah lolos dari putaran grup. Ketika menjadi tuan rumah Piala Asia 2007, timnas kita tampil begitu membanggakan meski akhirnya kembali gagal lolos dari putaran grup. Atau yang lebih realistis, Piala AFF yang juga belum pernah dimenangi sekalipun sejak ajang ini digelar pada 1996.
Sebelum lebih jauh mengupas atau dan atau lain, setidaknya setitik harapan kini muncul dari kisruh sepak bola nasional. Kekacauan hingga memunculkan dualisme liga dan dualisme pengurus PSSI berakhir melalui Memorandum of Understanding yang ditandatangani para pihak yang beseteru. Panandatanganan dilakukan di markas AFC di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 7 Juni.
Isi kesepakatan antara lain PSSI dan KPSI harus membuat Komite Bersama untuk membentuk liga profesional, Komite Bersama bekerja sama dengan AFC dan FIFA untuk meninjau Statuta PSSI dan berbagai permasalahan organisasi, empat Komite Eksekutif yang dipecat statusnya dikembalikan, ISL akan terus berjalan dan terpisah dari IPL tetapi berada di bawah kontrol PSSI, serta KPSI tidak lagi menjadi otoritas sepak bola setelah kongres dilakukan pada September mendatang.
Kesepakatan harus dicapai karena FIFA memberi deadline 15 Juni bagi penyelesaian kisruh di sepak bola Indonesia. Kita tentu berharap niat baik benar-benar menjadi landasan demi perbaikan sepak bola yang sudah berada pada titik terburuk. Pekerjaan rumah mereka sangat banyak termasuk mengawasi pambayaran gaji pemain yang sebagian besar belum dibayar oleh klub-klub IPL maupun ISL. Belum lagi berbagai kerusuhan hingga menelan banyak korban suporter di beberapa daerah.
Dengan setumpuk pekerjaan tersebut, mereka harus bergandeng tangan dan bersama-sama menyelesaikannya, bukan terus berseteru karena embrio permusuhan bisa kembali berkobar jika salah satu pihak ada yang memantik atau mengumbar aroganisi. Ayo membuat sejarah bagus bagi sepak bola kita, bukan tecatat di sejarah sebagai perusak sepak bola!