Skor
Eko Widodo

Share Kolom

Road to NBA Final 2012
Filosofi Boleh Gagal yang Berbuah Final
Eko Widodo
Jumat, 08/06/2012 14:37:48   |   Read : 2142

Scott Brooks, sukses melobi pemain. (Getty Images)

In order to succeed you must fail, so that you know what not to do the next time (– Anthony J. D’Angelo). Janganlah takut gagal, sebab untuk berhasil kita kadang harus terus belajar dari sebuah kegagalan.

Itulah filosofi Scott Brooks, pelatih Oklahoma City Thunder, finalis NBA 2012. Brooks sukses membawa OKC Thunder ke Final NBA untuk pertama kali. Perjalanan ke final Thunder mengesankan sebab membabat sang juara bertahan Dallas Mavericks 4-0, menumbangkan juara NBA 5 kali di era millennium, LA Lakers dengan 4-1, serta menyudahi perlawanan 4 kali juara NBA, San Antonio Spurs 4-2.

Dengan kumpulan pemain muda bersemangat yang minim pengalaman di final wilayah, ia justru membuktikan bahwa ‘impossible is nothing’. Tak banyak yang tahu apa resep Brooks menyulap para pemuda berbakat di Thunder itu menjadi kekuatan yang tak terbendung tim berpengalaman sekaliber Dallas, Lakers, dan Spurs.

Ketika diminta melatih Thunder sebagai pelatih pengganti di musim 2008/09, sebelumnya klub itu bernama Seattle SuperSonics, Brooks hanya meminta ia diberi keleluasaan penuh menangani pemain muda Thunder. “Izinkan saya menangani anak-anak muda itu dengan cara saya dan memilih pemain berdasarkan keperluan permainan saya.” Syarat yang tentu saja segera disambut dengan jabat tangan oleh manajemen OKC di bawah komando general manager, Sam Presti.

Antara Sam Presti dan Scott Brooks memiliki kemiripan: Mr. Perfect. Sam, bergabung ke OKC saat usia 35 tahun. Ia adalah asisten khusus pelatih Spurs, Gregg Popovich untuk pembuatan video. Ia berperan besar saat Spurs menjadi juara NBA 2003, 2005, 2007 dimana saat itu menjadi wakil presiden sekaligus asisten general manager Spurs. Sosok kesempurnaan adalah syarat penting bagi orang-orang pilihan Popovich.

Brooks juga termasuk Mr. Perfect. Pria kelahiran 31 Juli 1965 itu berpengalaman 11 tahun di NBA. Ia oleh mantan pelatih Houston Rockets, Rudy Tomjanovich, dijuluki sebagai sosok point guard yang suka kesempurnaan, a no mistake point guard. Ia menjadi back up hebat Kenny Smith saat Rockets menjadi juara NBA 1994. Ia memegang rekor lima musim bermain di NBA dengan rekor statistik steal lebih baik daripada turnover.

Pada 1994 melawan Suns, Rocket tertinggal 0-2 di kandang sendiri sebelum berhasil membalikkan keadaan dan mengalahkan Suns 4-3 di semifinal wilayah Barat. Brooks merendah mengenang kisah itu. ”Jika seandainya Kenny Smith bukan point guard kami, tak mungkin kami bisa melewati Suns,” kata Brooks. Padahal, faktanya Brooks melakukan steal-steal penting pada Kevin Johnson, Charles Barkley, dan Dan Majerle saat itu.

Agak aneh di telinga Sam Presti saat Brooks mengizinkan pemain bintang OKC Thunder berbuat salah atau gagal saat mengeksekusi bola saat offense. Sebab Presti tahu bahwa Brooks adalah seorang pelatih yang masuk kategori emosional. Presti mencemaskan konflik internal jika terlalu banyak kesalahan yang dibuat pemain. Soalnya, fakta membuktikan bahwa para pemain sering merasa kesal ketika Russell Westbrook banyak berbuat kesalahan sendiri, yang berdampak pada kekalahan OKC Thunder.

Namun, Brooks ternyata seorang motivator ulung. Ia hanya tujuh kali dipercaya sebagai starter sepanjang 10 tahun karier bermain di NBA (1988-1998). Jadi, ketika ia membolehkan para pemain hebatnya gagal mengeksekusi, ia bisa menerima kondisi itu. ”Belajarlah dari kegagalan itu,” pesan Brooks di setiap kesempatan. Tantangan dengan pola berpikir terbalik itulah yang justru membuat para pemain OKC Thunder cepat matang.

Brooks sukses membuat pemainnya percaya diri dan tidak takut berbuat salah. Tertinggal lebih dari 15 poin di babak pertama sudah biasa bagi Kevin Durant dkk. Namun, OKC menjadi monster yang haus poin di babak kedua dan sering melibas lawan dengan permainan nyaris sempurna di kuarter ketiga dan keempat.

Bintang di Semua Posisi

Berangkat sebagai pelatih yang kenyang dengan duduk di bangku cadangan membuat Scott Brooks jeli memilih pemain. Bersama Sam Presti, Brooks memilih Kevin Durant (NBA Draft 2007 pilihan kedua), Russell Westbrook (NBA Draft 2008 pilihan keempat), Serge Ibaka (NBA Draft 2008 pilihan ke 24), James Harden (NBA Draft 2009 pilihan 3), dan Reggie Jackson (NBA Draft 2011 pilihan ke 24).

Ia mengganti center Nenad Krstic dan pemain muda potensial Jeff Green dengan Kendrick Perkins. Dalam filosofi permainan Brooks, ia perlu center berbadan tebal yang menjadi poros defense di paint. Center pilihannya harus seorang hard worker dan bernyali besar. Sebab, Brooks paling tidak suka punya pemain penakut yang malas adu badan dengan pemain lawan. Lihatlah, betapa besar nyali seorang Serge Ibaka, yang di mata saya adalah Pemain Bertahan Terbaik 2012 (gelar itu dimiliki Tyson Chandler, New York).

Ia jeli melihat kemampuan defense Thabo Sefolosa yang sebenarnya dimiliki Chicago Bulls. Sefolosa itu defender bertangan panjang mirip defender Spurs, Mario Elie dan Bruce Bowen. Untuk urusan mendatangkan Sefolosa, Brooks berterima kasih pada pandangan jeli Presti, sebab tak perlu dibarter dengan pemain dan cukup dibayar dengan cash.

Tukang tembak 3 angka yang juara All-Star juga menjadi pertimbangan Brooks mendatangkan Daequan Cook (Miami Heat). Brooks adalah pemilik rekor pribadi 43% menembak dari luar garis pelangi, sehingga ia tanpa ragu menunjuk Cook sebagai shooter andalan.

Pekerjaan terberat Brooks adalah meyakinkan James Harden agar mau bermain dari bench. Sebagai draft pilihan ketiga di NBA Draft 2009, Harden merasa galau saat diminta menjadi 6th Man. Bayangkanlah, susah payah ia mendapatkan beasiswa dari Arizona State University, sekarang hanya mendapatkan peran dari bench.

Sekali lagi, pengalaman Brooks yang hanya dimainkan tujuh kali sebagai starter sepanjang 10 tahun karier di NBA, membuat mindset Harden berubah. Ia menyetujui peran sebagai pemain cadangan. Keseimbangan permainan pun menjadi milik OKC Thunder.

Setelah menyusun pemain muda yang tahu peran masing-masing, ia mendapatkan durian runtuh saat Derek Fisher dilepas dari skuad Lakers di bursa free agent, pertengahan Maret lalu. Meski sejatinya dikirimkan ke Houston, namun Fisher menolak bermain sehingga dibuy out oleh Rockets. Peran agen Rob Pelinka sangat besar. Pelinka adalah agen Kevin Durant dan James Harden.

Kisah perburuan Fisher aslinya menegangkan. Miami Heat dan Chicago Bulls sudah melakukan kasak kusuk untuk mendatangkan Fisher ke klub masing-masing. Namun, kedekatan Fisher dengan Durant dan permintaan Harden agar menjadi mentornya, membuat Fisher sepaham dengan Pelinka bahwa OKC Thunder adalah pilihan paling pas. Kegalauan mendapakan Fisher paling dirasakan Tom Thibodeau sebab ia merasakan bahwa Derrick Rose akan menjadi kelemahan terbesar di babak play-off kelak (Rose akhirnya cedera putus ACL di gim pertama play-off dan harus absen setidaknya 10 bulan).

”Saya paling gembira saat Fisher memutuskan bermain di OKC. Ia seorang veteran yang akan berpengaruh besar di kamar ganti. Barisan guard kami adalah yang terbaik dan berpengalaman,” kata Durant kepada ESPN, usai Fisher resmi bergabung dengan memilih nomor 37.

Pujian Gregg Popovich

Kompletnya skuad OKC, tak serta merta membuat Brooks besar kepala. Ia malah mengaku nervous kepada USA Today. ”Saya belum menjadi pemimpin yang baik. Lihatlah, banyak kesalahan yang kami buat melawan tim besar seperti Dallas, Lakers, maupun Spurs,” kata Brooks, pensiunan guard setinggi 180 cm ini.

Pelatih Spurs, Gregg Popovich, yang dikenal disiplin, tak sepakat dengan pernyataan Brooks. ”Brooks dan stafnya melakukan persiapan dengan sangat matang. Mereka sangat detil dan disiplin,” kata Pop, usai kekalahan di final wilayah Barat, Kamis (7/6) kemarin.

”Satu lagi, para pemain OKC tak selfish. Mereka kompak dan mau berbagi bola. Permainan juga simpel: straight to the basket,” timpal Popovich.

Kekompakan memang menjadi harga mati bagi Brooks. Ia tipikal pelatih yang memberikan keleluasaan pemain berkreasi. ”Durant, Westbrook, Ibaka, dan Harden masing-masing punya keunikan. Mereka boleh bebas memainkannya. Namun, mereka harus patuh pada sistem saya dan tim pelatih,” ungkap Brooks.

Khusus untuk pelatih point guard, ia sangat tepat memilih Maurice Cheeks sebagai asisten. Cheeks adalah legenda NBA dan 76ers yang bernasib tak bagus saat melatih 76ers. Namun, Cheeks adalah point guard yang sukses menjaga Brooks semasa mereka masih bermain di NBA.

Setelah memastikan tiket final NBA 2012, apakah yang akan dilakukan Brooks?

”Kembali ke gedung dan berlatih lagi. Masih ada tujuh laga berat yang menyita konsentrasi. Perjalanan belum berakhir,” kata Brooks.


Berita Terkait

Komentar