
( )
"Seberapa baik sebenarnya kualitas pesepak bola muda kita untuk bisa berkompetisi di Eropa?"
Pertanyaan ini mengiringi makan siang saya baru-baru ini. Dengan wajah yang sungguh ingin mendapatkan jawaban, seorang teman menyebutkan nama beberapa anak muda yang dia kenal dari sejumlah media. Dari Radja Nainggolan, Andik Vermansyah, hingga Syamsir Alam.
Ada nada keraguan walau terbersit harapan akan munculnya pesepak bola muda Indonesia yang benar-benar dikontrak oleh klub luar negeri, terutama liga-liga Eropa.
Sungguh tidak mudah memilih kata-kata untuk memuaskan lawan bicara saya kali ini. Saya paham, sang teman ingin sekali membaca berita tentang pesepak bola Indonesia di media luar negeri, yang dianggap lebih mampu memaparkan kebenaran ketika menilai kualitas pemain kita.
Well, saya punya dua perumpamaan yang sudah berulang kali saya pakai dalam sebuah diskusi maupun penulisan artikel.
Dengan penuh keyakinan, saya menceritakan hubungan sepak bola dan tanah subur. Sebaik apapun benih yang kita tanam, tetapi bila tanah habitatnya adalah bebatuan, biji atau buah dari tanaman itu tak akan mampu tumbuh subur dan memberi kita buah.
Bayangkan bila benih itu anak-anak muda Indonesia yang penuh bakat dan bermimpi menjadi pesepak bola profesional. Bisakah mereka berkompetisi di liga-liga Eropa yang biasa kita saksikan di layar televisi?
Kompetisi sepak bola Indonesia adalah tanah tempat bibit-bibit unggul itu tumbuh. Siapa yang berani menjamin Liga Indonesia, entah yang mana, membantu mereka tumbuh dan berkembang dengan maksimal?
Untuk bermain di sebuah liga top Eropa memang harus memperhatikan sejumlah aspek, termasuk peringkat negara dan kontribusi si pemain terhadap tim nasional.
Tapi aspek mendasar, yakni habitat sepak bola yang dimiliki bibit-bibit unggul Indonesia lebih tepat bila kita sebut semak berduri. Cekcok dan pembunuhan karakter merupakan wajah sepak bola kita. Hal ini tak hanya terjadi di tubuh federasi sepak bola Indonesia, tetapi juga menggerogoti klub-klub di Tanah Air.
Apa yang akan terjadi dengan benih unggul yang hidup di semak berduri? Ia akan tumbuh dengan susah payah, layu, dan kemudian mati tanpa sempat berbuah.
Untuk perumpamaan kedua, saya teringat kisah kutu dan kotak. Ada dua ekor kutu dengan habitat yang berbeda. Kutu yang pertama hidup di antara bulu-bulu seekor anjing. Kutu kedua tinggal di dalam sebuah kotak.
Kutu mana yang punya lompatan lebih tinggi? Kutu yang hidup di dalam kotak tak akan bisa menyaingi temannya yang hidup bebas. Setiap kali ia melompat tinggi, tubuhnya akan membentur atap kotak.
Rutinitas seperti itu membuatnya tak lagi mau melompat melebihi kotak. Ketika dikeluarkan dari sangkarnya, lompatan si kutu hanya setinggi kotak yang selama ini membatasi ruang geraknya.
Dalam sepak bola, kotak itu merupakan keyakinan kita. Salah satu kegagalan pesepak bola Indonesia adalah karena kerap membatasi kemampuan dengan keyakinan hidup dalam kotak.
Sikap puas dan cepat bangga terhadap kemampuan yang sekarang juga sama dengan kotak yang mengurung si kutu. Bukankah usaha manusia sesungguhnya tidak mengenal batas? Apapun hasilnya, usaha kita yang akan menentukan.
Britain’s Got Talent
Hmm, diakui atau tidak, segala masalah dan pertengkaran dalam sepak bola di Tanah Air termasuk upaya membatasi kemampuan bibit-bibit unggul Indonesia.
Saya jadi teringat Susan Boyle, wanita yang menghebohkan Inggris ketika mengikuti sebuah acara TV bernama "Britain’s Got Talent" pada tahun 2009.
Saat wanita Skotlandia berusia 47 tahun itu berada di hadapan tiga juri acara, Simon Cowell, Amanda Holden, dan Piers Morgan, serta seluruh penonton, tampak jelas penghakiman sudah dimulai sebelum Susan memperlihatkan bakat yang ia banggakan, yakni bernyanyi!
Secara fisik, penampilannya sungguh tak mencerminkan sosok yang punya bakat istimewa. Bayangkan wanita berusia 47 tahun dengan tubuh yang tak bisa disebut menjual untuk menarik perhatian penonton layaknya artis-artis di Indonesia yang ingin meraih popularitas.
Apa yang terjadi saat Susan mulai mengeluarkan suaranya melantunkan lagu berjudul “I Dreamed a Dream"? Ketika itu, seorang Piers Morgan bahkan memberikan huruf "Yes" terbesar yang pernah ia berikan selama tiga tahun menjadi juri.
Singkat cerita, di tahun yang sama (2009), Susan Boyle mengeluarkan album berjudul "I Dreamed a Dream". Wanita sederhana itu mendapatkan 5 juta pound, sekitar 69 miliar rupiah, di tahun pertamanya sebagai orang terkenal.
Anda tahu ucapan Susan Boyle sebelum ia bernyanyi untuk pertama kali di panggung Britain’s Got Talent? "Saya ingin menjadi penyanyi profesional. Saya tak pernah mendapatkan kesempatan sebelumnya."
Ia berharap melalui Britain’s Got Talent keadaannya bisa berubah. Sontak, wanita desa yang biasanya hanya bernyanyi untuk gereja itu, menjadi salah satu sosok terpopuler di Inggris.
Bagi Susan, Britain’s Got Talent adalah tanah subur yang membantunya tumbuh dan berbuah. Ia tak membatasi keyakinannya seperti kutu di dalam kotak. Lalu, kapan kita memiliki kompetisi (tanah subur) bagi bakat-bakat pesepak bola istimewa yang bertebaran di Tanah Air? #