
Manchester United, klub paling banyak meraih trofi di Liga Inggris pada era 2000. ( Clive Rose/Getty Images)
Soal prestasi? Bila dikaitkan dengan sepak bola Indonesia, prestasi pemain kita di lapangan kalah jauh dari sepak terjang pengurus federasi kita. Kondisi ini sudah terjadi sejak waktu lama dan menjadi konsumsi media massa.
Sepak bola, diakui atau tidak, adalah cabang olah raga yang memiliki kekhususan tersendiri. Ia melahirkan gairah yang luar biasa, baik oleh para pelaku maupun penikmat. Fans, klub, dan pemain memiliki hubungan spesial.
Mencapai kejayaan dalam sepak bola kerap diakui lebih sulit daripada memenangkan sebuah piala.
Di dunia sepak bola, meraih kemahsyuran tidak semudah menumpuk uang hasil penjualan tiket pertandingan dan hak siar, serta kelihaian memasarkan logo dan image pemain dalam berbagai bentuk.
Football is about glory. Inilah ucapan terkenal dari Robert Dennis Blanchflower. Ia gelandang Irlandia Utara yang pernah bermain untuk Barnsley, Aston Villa, Tottenham Hotspur, dan Toronto City.
Pada tahun 2009, Harian The Times di London memilihnya sebagai pesepak bola terbesar yang pernah dimiliki Tottenham. Pendukung Spurs mengenangnya sebagai kapten tim yang mempersembahkan gelar juara Liga Inggris dan Piala FA pada tahun 1961.
Di masa jayanya, tahun 1950 hingga 1960-an, Danny Blanchflower dikenal sebagai pesepak bola yang jago memainkan taktik serta piawai memberi umpan.
Sebelum tutup usia pada 9 Desember 1993 dalam usia 67 tahun, Blanchflower memberikan warisannya kepada Tottenham, sepak bola Inggris dan dunia, termasuk Indonesia. Ia menegaskan bahwa sepak bola itu tentang kejayaan, kemuliaan, dan keagungan.
Sebuah kemenangan harus diraih dengan rasa hormat dari pihak lain, serta mengundang kekaguman orang atas sikap sportif dan berkarakter yang membalut keterampilan para pemain di lapangan.
Bukankah warisan Danny Blanchflower ini semakin sulit kita lihat dalam perjalanan sepak bola sekarang?
Dalam perkembangannya, pemenang sepak bola kerap ditentukan oleh berapa banyak uang yang dimiliki pemilik klub. Atau seberapa besar Anda bisa menggertak lawan, termasuk memengaruhi wasit dan perangkat pertandingan.
"Apakah kita akan melihat kembali rekaman video atas setiap pelanggaran yang tidak disadari oleh wasit, lalu melihatnya dalam skenario yang berbeda soal tekel dan hukuman yang dijatuhkan?"
Secara terbuka, Vincent Kompany mengeluhkan kartu merah yang diterimanya dalam derby tim Kota Manchester di putaran III Piala FA, Minggu (8/1). Menurutnya, para pemain dan pelatih mulai punya kebiasaan mengharapkan wasit agar lebih sering mengusir pemain lawan.
Ada kalimat lain di Facebook Vincent Kompany yang menarik perhatian saya. Begini katanya, "Yang saya pahami selama ini, sepak bola Inggris sangat bangga terhadap dirinya, atas permainan keras, keadilan, dan tradisi pertandingan.
Benarkah Inggris kehilangan kebanggaan terhadap karakter khas sepak bola mereka?
***
Di manakah glory yang dimaksudkan Danny Blanchflower bila banyak klub sepak bola Inggris dimiliki orang asing? Sepak bola tak ada bedanya lagi dengan kegiatan sebuah industri.
Penggemar sepak bola asli di Inggris banyak yang terasing karena harga tiket terus melambung secara konsisten. Pemilik klub perlu melakukannya untuk mendanai gaya hidup para pemain yang semakin "wah", begitu pula kebiasaan para manajer dan petinggi klub.
Saya masih ingat membaca sebuah tulisan dari salah satu pengamat sepak bola di Inggris yang menyindir bahwa pemilik klub Premier League banyak yang tak peduli timnya kalah asal tiket penjualan pertandingan ludes setiap menggelar laga kandang.
Bukankah kondisi ini memperlihatkan strategi meraih keuntungan jangka pendek yang memutus jembatan hubungan tim dengan penggemarnya?
Para pemilik klub selayaknya paham bahwa kesetiaan pendukung tidak melulu karena banyaknya gelar yang mereka raih. Kebanyakan dari fans yang berkarakter glory hunter kerap memakai pertandingan untuk melontarkan kebencian terhadap pihak lain.
Hubungan antara klub sepak bola dan penggemarnya lebih kepada ikatan pribadi. Mereka menganggap klub yang didukung adalah perwakilan diri mereka di lapangan. Sejarah panjang antara sebuah klub dan penduduk di kota asal klub tersebut didirikan akan selalu ada dalam ingatan penggemar sepak bola asli.
Bagaimana dengan sepak bola di Tanah Air? Kapan lagi kita melihat permainan ini diperagakan antara dua tim yang menjaga sisi kemanusiaan, kejujuran, dan kebanggaan pendukungnya?
Bila Danny Blanchflower masih hidup, rasanya ia akan terperangah melihat bagaimana sepak bola di negeri ini jauh dari kejayaan, kemuliaan, dan keagungan di rumput hijau! #