Skor
Eko Yuli Irawan
Eko Yuli Irawan, Sang Pengangkat Mimpi
Brian Yosef
Rabu, 06/06/2012 17:21:09   |   Read : 2987

Eko Yuli Irawan (Harry How/Getty Images)

Kalimantan Timur lebih terkenal dengan sumber daya alam berupa minyak daripada angkat besi, tapi mulai berubah setelah Eko Yuli Irawan dan Triyatno memenangi medali perunggu pada Olimpiade Beijing tahun 2008.

Eko berada pada sebuah peluang besar tapi bukan tanpa rintangan. Ia berhasil meraih perak dari rival seperti, Cina dan Korea Utara pada kejuaraan dunia tahun 2009 tapi tidak melakukan kemampuan terbaik di babak kualifikasi terakhir Olimpiade.

“Saya merasa senang tapi pada saat yang sama merasa kecewa ketika meraih medali perunggu di Olimpiade Beijing 2008 karena saya merasa mampu melakukannya lebih baik. Tahun ini saya mengincar emas,” kenang Eko.

Kurangnya waktu persiapan adalah masalah yang kerap terjadi pada olahraga angkat besi dibandingkan dengan sepak bola atau bulu tangkis.

“Kami mulai pelatihan untuk Sea Games terakhir selama satu tahun ke depan. Tapi untuk Olimpiade, kami hanya diberi waktu selama enam bulan untuk persiapan. Saya harap itu tidak terjadi lagi.”

Bulan depan Eko akan dikirim ke luar negeri untuk menjalani kamp pelatihan.

“Ini adalah bagian penting dari rencana pelatih kami. Ia mengirimkan kami ke sebuah kamp pelatihan di luar negeri untuk memaksimalkan kemampuan kami. Kami akan menghadiri try-out dan bekerja dengan mitra tanding asing.”

Hadiah uang dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan kesejahteraan keluarganya, termasuk anak dan istrinya, Masitoh, yang juga meraih perunggu pada Sea Games 2011. Masitoh tinggal bersama Eko di Balikpapan.

“Kami harus bekerja keras untuk tujuan kita. Kami hidup terpisah dari keluarga, bahkan harus mengorbankan masa muda kita demi mencapai impian. Kami tidak bisa bergaul dengan teman atau menjalani hidup tanpa beban. Semua ini demi impian. Saya pikir, saya tidak bisa menjadi juara jika tidak memaksakan disiplin diri dengan rasa yang kuat.”

“Dibandingkan dengan atlet lain, saya tidak merasa berbakat. Pelatih telah mencatat bahwa saya merupakan seorang pembelajar cepat dan dapat menguasai teknik dengan baik. Pelatih menyampaikan bahwa saya memiliki tubuh lebih fleksibel daripada mereka,” lanjut pria berusia 23 tahun itu.

“Eko menyadari bahwa ia memiliki keterampilan dan potensi untuk menjadi juara. Dia adalah atlet yang tidak pernah meremehkan lawan-lawannya. Dia selalu siap untuk melawan pesaing manapun dan memberikan yang terbaik dalam setiap kompetisi, dan selalu menunjukkan kekuatan mental yang besar. Itulah yang saya sebut semangat sejati dari seorang atlet,” kata pelatih Eko, Lukman, mengenai determinasi Eko.

Dalam lima tahun terakhir, Eko hanya gagal sekali. Pada kejuaraan dunia tahun 2011 di Paris, Prancis. Ia meraih medali perunggu dalam kategori kelas 62 kg. Namanya berada di peringkat tiga di bawah Zhang Jie dari China dan Kim Un Guk dari Korea Utara.

Mau kenal lebih lanjut mengenai Eko Yuli Irawan?

Saksikan Living The Dream, Selasa (12/6), pukul 20.30 WIB, hanya di ESPN.

Komentar