Kasus PSMS
Sihar Jalan Terus
Dinilai ingkar janji karena membawa PSMS bermain di Jakarta dan tak memperbaiki Stadion Teladan, pemberian mandat kepada PT Togos Gopas selaku pengelola Ayam Kinantan akhirnya dicabut kembali. Pencabutan mandat itu dilakukan Ketua Umum PSMS, H. Abdillah, 4 Juli 2008 dengan nomor B/625/PSMS/VII/2008.
Dengan keluarnya surat pencabutan mandat itu berarti mulai 4 Juli 2008 pihak PT Togos Gopas tidak dibenarkan membawa nama PSMS dalam kegiatan apa pun. Segala akibat yang timbul karena itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab Dirut PT Togos Gopas, Sihar Sitorus.
Surat pencabutan atau pembatalan mandat itu ditembuskan kepada Ketua Umum PSSI, Ketua BLI, Ketua Pengda PSSI Sumut, Dirut PT PSMS, dan klub-klub anggota PSMS. Bersamaan pencabutan surat mandat, Abdillah juga mengeluarkan surat mandat kepada salah seorang pengurus PSMS, Hardi Mulyono, untuk melakukan gugatan hukum terhadap pihak-pihak yang telah merugikan PSMS sebagai akibat tidak ikutnya PSMS di Liga Super Indonesia 2008.
Sejalan dengan itu, surat pemberitahuan kepada BLI tentang penarikan diri PSMS dari Liga Super serta tentang tidak dibenarkannya lagi Sihar Sitorus (PT Togos Gopas) membawa nama PSMS dalam kegiatan apa pun.
Namun, dengan nada enteng, Sihar Sitorus mengaku tak terpengaruh dengan surat pencabutan itu. “Saya akan jalan terus. Kami telah mendapat mandat dari Badan Liga Indonesia untuk mengelola PSMS ke Liga Super 2008,” katanya.
Menurutnya, masalah pencabutan mandat yang berwenang itu adalah Komisi Disiplin PSSI sehingga pihak PT Togos Gopas tetap melanjutkan sebagai pengelola. Sihar juga mengakui visinya sebagai pengelola mengharuskannya menyiapkan dana antara Rp 20-25 miliar. Itu dilakukannya karena ingin membangun persepakbolaan. Dana sebesar itu juga dipergunakan untuk membentuk tim U-21, termasuk biaya akademi sepakbola Medan United.
Inilah pukulan terberat di saat kompetisi akan digelar. Namun, Joko Driyono, Direktur Kompetisi BLI, bersikap mengabaikan isi dari surat tersebut lantaran surat pencabutan mandat itu bisa menimbulkan chaos dalam kompetisi yang akan digelar. Atas nama kompetisi, BLI berharap kedua pihak kembali duduk dan menyelesaikan masalah secara bijak. Apalagi ada indikasi pencabutan mandat ini mengandung trik politik yang kurang elok.
Sebaliknya, pihak Sihar juga siap melayangkan gugatan jika mandat yang mereka peroleh dan uang yang telah digunakan terbuang percuma karena pencabutan mandat tersebut. Ruwet! (ary/wis)
>> Kembali ke Atas
|