Dana Klub
Bahaya di Depan Mata
Memasuki era profesional kompetisi Liga Super Indonesia 2008, ternyata belum semua klub beranjak melakukannya. Sebagian besar kontestan LSI masih menetek dana dari APBD. Kini saat kucuran dana itu diperketat, beberapa klub kelimpungan.
Persija, pekan ini dibayang-bayangi pemogokan pemain karena mereka belum menerima gaji. “Saya bisa memaklumi hal itu, tetapi dalam kondisi seperti inilah dibutuhkan pelatih yang bisa meng-handle tim dengan baik, terutama menyikapi masalah nonteknis,” ujar Danurwindo, pelatih Persija.
Manajer Persitara, Harry "Gendhar" Ruswanto, mengungkapkan kendala serupa. “Kami hanya menjanjikan prestasi bagi tiap pemain,” papar Gendhar.
Minimnya dana APBD membuat Persik tak menaikkan gaji atau kontrak pemain. Bahkan menurut Iwan Budianto, manajer Persik, kebanyakan pemain gajinya turun.
Kesulitan juga dihadapi Persiwa. Ada 24 pemain dan ofisial yang dikontrak. Mereka harus sabar menunggu pencairan uang muka 25%. “Hingga sekarang saya masih menggunakan uang pribadi dan pinjaman,” tegas Jhon R. Banua, manajer Persiwa.
Kini The Highlander menganggarkan Rp 19 miliar untuk mengarungi LSI, di mana Rp 12 miliar didapat dari APBD.
“Saya takut bisa mempengaruhi psikologis pemain jika sampai kompetisi berlangsung masalah belum terselesaikan,” tegas Suharno, pelatih Persiwa
Di PSM, dari Rp 20 miliar yang dibutuhkan selama kompetisi, setengahnya ditalangi lewat dana bantuan APBD. ‘’Kami masih sulit mencari sponsor utama. Sponsor pendamping yang nilai kontraknya di bawah Rp 1 miliar sudah ada,’’ kata Nurmal Idrus, humas PSM.
Persipura berbeda. PT Semen Bosowa masuk menjadi sponsor utama. Ada juga Bank Papua. Selain itu, mereka masih menunggu negosiasi dengan Freeport.
‘’Musim ini kami mendapat sponsor, jadi kami tidak perlu lagi terlalu bergantung pada APBD,’’ ujar Rudi Maswi, manajer Persipura.
Namun, nama besar tak melulu bisa mendatangkan sponsor. Persib, yang membutuhkan dana sebesar Rp 25 miliar semusim, dan “hanya” dibantu Rp 15 miliar oleh APBD, sulit mencari sponsor.
Meski begitu, pemasukan dari tiket sudah di depan mata. Persib sudah pasti akan mendapat pemasukan Rp 1,050 miliar sesuai kesepakatan dengan pemenang tender Panpel Persib, PT Sri Mulya Utama Grup.
(Ary J/Gatot S./Jamaludin/Budi K./Indra I.)
APBD DAN KLUB
----------------------------
Sriwijaya - Rp 17 miliar
Persija - Rp 21 miliar
Persitara - Rp 13 miliar
Persita - Rp 10 miliar
Persib - Rp 15 miliar
Persiba - Rp 10 miliar
Persela - Rp 8 miliar
Persik - Rp 7,5 miliar
PSM - Rp 10 miliar
Persiwa - Rp 12 miliar
Persipura - ?
(PSMS, Pelita Jaya, Arema, Pupuk Kaltim, tidak menggunakan dana ABPD. PSIS, Deltras, Persijap belum tentu menggunakan dana APBD )
>> Kembali ke Atas
PT Djarum Tbk
Terpikat Audiens Sepakbola
Untuk keempat kalinya, PT Djarum Tbk. kembali mensponsori kompetisi sepakbola di Indonesia. Kali ini kompetisi yang akan bergulir pada 12 Juli itu konon dikelola secara lebih profesional. Namanya pun lebih go international, yakni Djarum Indonesia Super League 2008.
Lalu bagaimana Djarum menyikapi semua perubahan dan komitmen mereka kali ini? “Soal nama, kami tak masalah. Yang penting nama ini bisa disosialisasikan dan disetujui BLI. Kami harap media juga secara profesional menerima nama tersebut,” kata Yunanto Ali, Direktur Zentha Hintawasana, pelaksana promosi Djarum.
Yunanto melihat, jika serius, nama itu baru akan melekat di masyarakat minimal tiga tahun ke depan.
Kini Djarum terlihat lebih serius untuk mensponsori kompetisi ini meski kini jumlah pertandingan jauh menurun dibanding musim lalu. Padahal, Djarum mengeluarkan biaya promosi yang sebenarnya lebih besar, sekitar 37,5 miliar rupiah.
“Kita melihat audiens sepakbola Indonesia sangat besar. Tak ada olahraga lain yang bisa mengalahkannya,” terang Yunanto. Meski sempat dikecewakan dengan final LDI 2007 Februari, yang harus berpindah tempat dan tanpa penonton, nyatanya Djarum belum kapok.
“Kenyataannya kompetisi di Indonesia nomor delapan di Asia dan nomor satu di ASEAN, terutama dalam penyelenggaraan. Jelas kami tertarik dengan hal ini. Apalagi tahun 2008 ini akan masuk gerbang industri sepakbola, klub bebas cari sponsor,” ungkap Yunanto.
Soal penempatan logo Djarum yang kini hanya kecil di lengan pemain, mereka tak mempersoalkan. "Sponsor kini mengambil wadah yang pantas," kata Yunanto.
Hanya, Djarum masih meraba-raba soal perpindahan kandang sejumlah klub. Misalnya PSMS, yang kini akan main di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
“Terus terang ini sesuatu yang baru bagi kami,” sebut Yunanto. Meski demikian, ia berharap semua klub bisa mematuhi perjanjian dan aturan sponsor selama kompetisi.
(ary)
>> Kembali ke Atas
|