PRINT EDITION | FORUM | AGENDA | PHOTOFOLIO
HALAMAN MUKA
Catatan Ringan
Halaman Tiga
Balap
Bola Basket
Bulutangkis
Galeri
Olimpik
Tenis
Tinju
OLE! INTERNASIONAL
Italia
Inggris
Spanyol
Jerman
Prancis
Profil
Wawancara
Piala UEFA
Euro 2008
OLE! NASIONAL
Divisi I
PSSI
KLASEMEN
Home  >  EDISI CETAK



 Anne Smillie


Penyelenggaraan Piala Thomas-Uber
Hampir Sempurna, kecuali Jadwal

Setelah kali terakhir berkesempatan jadi tuan rumah Turnamen Piala Thomas-Uber pada 2004, Indonesia mendapat kehormatan kembali menggelarnya pada 2008. Berdasarkan pengalaman empat tahun lalu ditambah perbaikan di sana-sini, panitia lokal bekerja ekstra keras untuk membuat turnamen berjalan lancar. Bagaimana penilaian BWF soal kinerja dan pelayanan dari panitia, kualitas turnamen, serta kekurangan yang masih terjadi? Berikut penuturan Anne Smillie, anggota Komisi Olahraga BWF, kepada Andrew Sihombing dan Erwin Fitriansyah.

Indonesia dan PBSI sebagai panitia penyelenggara Piala Thomas-Uber 2008 telah melakukan pekerjaan luar biasa untuk menyelenggarakan turnamen ini sebaik mungkin. Federasi Bulutangkis Dunia (Badminton World Federation/BWF) memang berharap panitia mampu menghadirkan sebuah turnamen yang berkelas dengan standar yang tinggi.

Panitia berhasil memenuhi harapan tersebut. Rasanya PBSI dan panitia lokal berhak mendapat pujian khusus atas kerja keras tersebut. Semoga hal ini bisa berlanjut hingga akhir turnamen.

Sulit menandingi keberhasilan PBSI dalam menyelenggarakan turnamen kelas dunia seperti kali ini. Tolok ukurnya bisa dilihat dari keikutsertaan pemain dunia, antusiasme penonton yang luar biasa, khususnya bila tim Indonesia bertanding, keramahan dan kerja sama panitia untuk membuat pemain nyaman, hingga masalah transportasi yang berjalan lancar.

Sejauh ini belum ada keluhan dari negara peserta yang sampai ke sekretariat BWF. Perhatian utama adalah bagaimana membuat pemain merasa nyaman mengikuti pertandingan. Bila pemain diam, itu artinya mereka senang.

Meskipun demikian, tetap saja tidak ada yang sempurna di dunia ini. Masih ada perbaikan yang bisa dilakukan untuk menciptakan turnamen yang lebih baik di masa mendatang.

Tindakan pertama yang akan diambil BWF adalah melakukan evaluasi terhadap format kompetisi. Format yang sekarang memungkinkan ada negara yang sengaja mengalah sebagai bagian dari strategi memilih lawan yang lebih ringan di babak selanjutnya.

Padahal, tindakan semacam ini justru merusak semangat kompetisi. Setiap turnamen dirancang agar pemain selalu mengeluarkan kemampuan terbaik dalam tiap pertandingan. Banyak orang yang akan kecewa bila pemain tidak serius dan tim sengaja mengalah.

Sayangnya, saat ini BWF belum bisa melakukan tindakan apa pun untuk menghindari kondisi seperti sekarang. Langkah terbaik mungkin hanya mengubah format kompetisi di masa depan.

Selain itu, jadwal pertandingan juga menjadi perhatian khusus. BWF sedang membahas mengenai kemungkinan penambahan hari pertandingan sesuai dengan jumlah peserta. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada negara yang bermain lebih dari satu kali dalam sehari. Dengan demikian tidak ada pemain yang merasa diperlakukan tidak adil.

Saya juga baru tahu bahwa banyak penonton yang ingin menyaksikan langsung tapi kehabisan tiket. Alokasi dan distribusi tiket adalah tanggung jawab penuh panitia lokal.

Hal ini bukan pekerjaan ringan karena panitia harus menghitung berapa banyak kursi yang harus disediakan bagi pemain dan ofisial tim, sponsor, hingga media massa. Kursi semacam ini tidak bisa dijual ke masyarakat umum karena justru akan menimbulkan masalah di lapangan.

Jumlah tiket yang disediakan bergantung pada kapasitas tempat pertandingan. Gedung Istora sebenarnya sudah sangat representatif, ditambah lagi atmosfer yang tercipta juga sangat baik. Perlu diingat bahwa banyak gedung pertandingan yang jauh lebih besar tapi tidak bisa menciptakan atmosfer bulutangkis seperti Istora.

Kualitas Turnamen

Kembali ke masalah tiket, memang banyak orang kecewa karena kehabisan tiket sehingga tidak bisa menonton pertandingan. Sebenarnya hal ini justru menunjukkan betapa populer bulutangkis di Indonesia. Kondisi ini justru lebih baik dibanding bila panitia justru sulit menjual tiket karena tidak ada peminat.

Sah-sah saja jika panitia banyak mengalokasikan tiket untuk sponsor. Asalkan tetap ada yang dijual untuk umum, hal itu wajar. Soal berapa yang diberikan ke sponsor dan berapa yang dijual, itu juga hak panitia lokal untuk mengatur

Bagaimanapun, semua persoalan itu tidak lantas mengurangi kualitas turnamen. Tidak ada kekhawatiran penonton akan bosan karena turnamen ini kembali memunculkan negara superior bulutangkis sebagai juara. Banyak pebulutangkis top dunia akan bertanding. Itu tentu menyajikan tontonan yang sangat menarik.

Satu kredit poin lagi adalah kehadiran negara baru yang tidak memiliki kultur bulutangkis. Kehadiran Nigeria dan Selandia Baru adalah sesuatu yang luar biasa.

Kemampuan teknis mereka mungkin masih tertinggal dibanding pemain top dunia. Namun, yang utama adalah kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam turnamen bergengsi seperti Piala Thomas-Uber. Semua ini bisa terjadi berkat format kompetisi yang memungkinkan negara dari tiap benua untuk bisa hadir dalam turnamen ini. Kondisi ini sejalan dengan cita-cita BWF untuk menjadikan bulutangkis sebagai olahraga global.

>> Kembali ke Atas

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC