PRINT EDITION | FORUM | AGENDA | PHOTOFOLIO
HALAMAN MUKA
Catatan Ringan
Halaman Tiga
Balap
Bola Basket
Bulutangkis
Galeri
Olimpik
Tenis
Tinju
OLE! INTERNASIONAL
Italia
Inggris
Spanyol
Jerman
Prancis
Profil
Wawancara
Piala UEFA
Euro 2008
OLE! NASIONAL
Divisi I
PSSI
KLASEMEN
Home  >  EDISI CETAK



Laporan
Michael Dickhaeuser

dari Swiss


Susahnya Nonton Euro

UEFA sibuk berperang melawan pasar gelap. Faktanya, penjualan tiket tidak resmi tetap marak. Pembelinya bukan masyarakat umum seperti Anda atau saya, melainkan perusahaan besar yang bukan sponsor Euro 2008 dan tidak mendapat jatah tiket gratis layaknya partner resmi.

Sebagian perusahaan membeli tiket dari pasar gelap sebagai hadiah bagi pelanggan. Sebuah surat kabar berbahasa Prancis di Swiss, Le Matin Bleu, berhasil menguak adanya praktik pasar gelap yang khusus ditujukan bagi perusahaan asing raksasa.

Mereka membeli tiket VIP duel Prancis versus Italia yang termasuk hotel dan makanan ringan seharga enam ribu franc (52,6 juta rupiah) per tiket. Atau partai semifinal seharga sembilan ribu franc (78,9 juta rupiah).

Lantas apa yang harus dilakukan penggila sepakbola yang tidak punya tiket untuk menyaksikan putaran final Piala Eropa 2008 dan sialnya tidak ada tempat menonton resmi di kota mereka?

Solusi paling mudah, mereka bisa menggelar acara nonton bareng di rumah masing-masing bersama teman-teman. Yang harus dilakukan hanya menyiapkan sebuah layar raksasa serta makanan kecil di kebun dan mereka siap berpesta. Mudah secara teori, tetapi tidak pada praktiknya.

Pertama, sang empunya rumah kudu memastikan bahwa acara yang digelar tidak berbau komersial. Artinya mereka tidak boleh memungut bayaran dari tamu yang datang. Selain itu, diagonal layar yang digunakan juga tidak boleh lebih dari tiga meter. Last but not least, mereka juga tidak boleh menjual hotdog atau popcorn kepada tamu yang datang.

Jika tidak memenuhi persyaratan tersebut, acara nonton bareng bisa dikategorikan sebagai tempat kegiatan komersial dan wajib membayar 160 franc (1,4 juta rupiah) kepada agensi hak cipta Swiss, SUISA.

Sementara itu, jika Anda ingin menggunakan layar yang lebih besar dan mengundang orang-orang melalui iklan plus menjual makanan atau minuman, Anda harus meminta lisensi resmi dari UEFA. Anda juga harus membayar 10 franc (87.702 rupiah) per meter persegi dan per pertandingan.

Beberapa teman saya melakukannya. Mereka tinggal di kota kecil dan menggelar pesta khusus bagi penggemar sepakbola dengan menjual bir serta makanan. Mereka juga harus meneken kontrak dengan UEFA bahwa mereka hanya menjual bir Carlsberg dan tidak menyediakan produk lain yang bukan sponsor resmi Euro 2008.

Masalah selesai? Belum karena SUISA masih mencari cara agar bisa mendapatkan bagian. Bulan lalu, mereka mengubah peraturan dan menyebutkan bahwa masyarakat juga harus membayar jika menggunakan layar lebih besar walau acara nonton bareng itu tidak bertujuan mengeruk keuntungan.

Peraturan Konyol

Satu lagi peraturan yang terdengar konyol. Jika sebuah sebuah restoran atau bar berlokasi di dekat fan zone, mereka juga harus tunduk pada peraturan UEFA. Dengan kata lain, mereka hanya diizinkan menjual minuman sponsor resmi Piala Eropa 2008, yaitu Carlsberg dan Coca-Cola.

Namun, seperti kisah Asterix dan Obelix, yang kerap menentang otoritas Romawi, beberapa restoran di Basel juga tidak setuju dengan peraturan UEFA. Pertama mereka diminta untuk menyingkirkan meja dan kursi yang berada di depan restoran. Cara itu tidak berhasil karena pemilik restoran sudah menyewa selama satu tahun.

UEFA lantas menawarkan solusi baru. Para pemilik usaha bisa menjual minuman resmi Euro 2008 dengan menggunakan tenda tepat di depan restoran atau bar mereka dengan biaya sewa dua ribu franc (17,5 juta rupiah) per hari. Lagi-lagi, usul tersebut ditolak mentah-mentah.

Hasilnya, setiap menjelang pertandingan pemilik restoran atau bar akan memasang pagar setinggi dua meter yang ditutupi tanaman sehingga tidak ada yang melihat jika para pengunjung meminum minuman selain Coca-Cola dan Carlsberg. Lewat tengah malam, pagar itu akan dicabut kembali. Bayangkan betapa konyolnya.

Setiap orang yang berada di dalam restoran dan bar tidak bisa lagi memandang keindahan Sungai Rhine. Namun, dengan sedikit keberuntungan, mereka bisa menyaksikan pertandingan dari layar raksasa yang terletak di area penonton publik ditemani bir lokal atau bir khas Spanyol kesukaan mereka.

>> Kembali ke Atas

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC