|
|
 |
Home
> EDISI CETAK
GP F1 Inggris
Napak Tilas 1992, 1994, atau 1995?
Lewis Hamilton menuntaskan dahaga Inggris. Sejak 1995 inilah kali pertama ada pembalap berdarah Inggris sungguhan, bukan Inggris Raya, memenangi lomba. Kemenangan ini sekaligus membuat perburuan gelar juara dunia F1 2008 kian seru.
|
|
Lewis Hamilton, bakat besar yang siap mengikuti jejak Nigel Mansell. (Foto: Getty Images)
|
David Coulthard secara status memang dianggap sebagai pembalap tuan rumah. Pria Skotlandia ini memenangi GP Inggris Raya (British GP) terakhir kali pada 2001 bersama tim yang kini dibela Hamilton, McLaren.
Namun, kegembiraan publik Silverstone tetap saja berlipat bila ada pembalap berdarah Inggris sejati yang menang. Yang paling sensasional tentu ketika mereka menyambut kehebatan Nigel Mansell tahun 1992. Mansell waktu itu melanjutkan kisah suksesnya dengan merebut titel juara dunia bersama tim Williams.
Setelah Mansell, dua tahun kemudian ada lagi idola Inggris yang menang di Silverstone, Damon Hill (Williams). Kemenangan Hill waktu itu begitu bergema karena dia lantas bersaing ketat dengan Michael Schumacher dan hanya kalah 1 poin di akhir musim.
Setelah Hill, tahun 1995 Johnny Herbert (Benetton) tak terlalu 'bunyi'. Herbert kala itu dianggap sebagai pembalap di balik bayang-bayang Schumacher, yang mendominasi musim tersebut. Karenanya Inggris tak terlalu berekstasi menyambut kemenangan Herbert.
Setelah Herbert, pembalap Inggris lain silih berganti muncul. Jenson Button tentu yang paling banyak disorot, tapi namanya tenggelam sampai datang sosok Hamilton.
Hamilton sudah menapaktilasi Mansell, Hill, dan Herbert. Masalahnya siapa yang bakal benar-benar ia ikuti jejaknya? Tentu Mansell-lah jawaban bagi Hamilton-mania. Namun, Hamilton kini tak dibekali mobil dominan seperti Mansell dulu.
Tim yang Hebat
Balapan di Silverstone (6/7) mengu¬kuhkan sekali lagi Ha¬milton me¬mang jago di lintasan basah. Paling tidak itu dikuatkan data ia memenangi GP Jepang 2007, yang juga diganggu hujan.
"Ini kemenangan terbaik saya sampai saat ini," ujar Hamilton pada jumpa pers pascalomba yang dirilis FIA. Memang cara kelahiran Tewin ini memenangi balapannya yang ke-7 luar biasa. Ia, juga tim McLaren, tak membuat kesalahan. Kalaupun terpaksa melambat, itu karena mencari aman dan menanti jatah masuk pit.
Ketepatan McLarean memanggil masuk Hamilton untuk pitstop dan penggunaan ban basah yang pas (intermediate) adalah kunci keberhasilannya. Dengan ban yang tepat itu, Hamilton bahkan bisa finis lebih dari 1 menit di depan Nick Heidfeld (BMW).
"Untuk pemilihan ban, saya serahkan kepada tim. Jadi, saya juga mesti berterima kasih kepada mereka," ujar runner-up dunia 2007 ini.
Hamilton kini memimpin klasemen dengan poin yang sama dengan Felipe Massa dan Kimi Raikkonen, 48. Hamilton dan Massa menang 3 kali, Kimi 2. Hamilton dan Massa juga sama-sama jadi runner-up sekali, peringkat 3 sekali, dan peringkat 5 sekali. Tapi, dari dua balapan di mana mereka sama-sama tidak mendapat poin, Hamilton sekali finis di urutan 10, sementara Massa benar-benar tidak finis. Itu "poin" Hamilton.
(Arief Kurniawan)
>> Kembali ke Atas
Ferrari Tiba-tiba Hancur Lebur
Ketika mendominasi GP Prancis dua pekan lalu dengan finis 1-2, bahkan satu di antaranya dengan knalpot rusak, Ferrari begitu yakin bisa mengulangi kesuksesan serupa di Silverstone.
Apalagi secara teoretis Silverstone memiliki karakter sama dengan Catalunya di Spanyol, yang juga mereka menangi. Hasil tes pekan lalu di Silverstone sekali lagi membuat cerah Ferrari.
Namun, memasuki free practice Jumat dan kualifikasi Sabtu, harapan itu tiba-tiba menghilang. Mereka pun seperti panik, serbasalah.
Kru pit terlambat memasang ban kanan belakang Felipe Massa saat kualifikasi. Massa, yang biasanya bagus, pun harus membayar mahal karena start dari posisi 9. Saat lomba, mobil Massa pun tak keruan. Dia melintir sampai lima kali!
Lain lagi problem Kimi Raikkonen. Start dari posisi 3 sebenarnya bagus karena ia mengisi bahan bakar lebih banyak. Apalagi kecepatan lombanya juga prima sampai menjelang pitstop pertama. Saat itu, Kimi, yang sudah berada di posisi 2, hanya berselisih kurang dari 1 detik terhadap Lewis Hamilton.
Namun, saat pitstop pertama itu ban mobil Kimi tidak diganti. "Kami pikir cuaca akan membaik, dari yang tadinya hujan, tapi ternyata salah," ujar Stefano Domenicalli, bos Ferrari, dalam rilis resmi mereka pascalomba.
Kimi sendiri mengakui dia bisa memenangi lomba hari Minggu (6/7) itu asal kejadian saat pitstop pertama tersebut tak terjadi. "Sampai sebelum pitstop itu, saya berpeluang menang. Namun, setelah ban mobil tak diganti, mobil saya jadi tidak bisa dikendalikan," kata Kimi.
Kimi, yang tadinya ada di posisi 2, melorot ke urutan 11. Beruntung ia bisa kembali mendapatkan kecepatan normal, walau sempat juga melintir. Dengan finis di urutan 4, ia mendapat 5 poin dan paling tidak sekarang angkanya sama dengan Lewis Hamilton dan Massa di klasemen.
F1 2008 memang mengasyikkan. Ferrari, yang diramalkan dominan, bisa tiba-tiba hancur lebur gara-gara kesalahan mereka sendiri. (arf)
>> Kembali ke Atas
| |
 |

|